Rabu 30 Aug 2023 14:23 WIB

Mutasi Varian Covid-19 yang Paling Diwaspadai Saat Endemi

Mutasi Covid-19 terus ada dengan segala variannya.

Rep: Santi Sopia/ Red: Qommarria Rostanti
Virus corona (ilustrasi). Ada mutasi varian Covid-19 yang patut diwaspadai.
Foto: Pixabay
Virus corona (ilustrasi). Ada mutasi varian Covid-19 yang patut diwaspadai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pandemi Covid-19 memasuki fase endemi di Indonesia. Status endemi berarti ancaman virus tetap ada, meski angka penularannya sudah terkendali.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan setelah endemi, masyarakat merasa sudah aman, padahal tetap hidup berdampingan dengan Covid-19. Mutasi virus terus ada dengan varian barunya. 

Baca Juga

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus tidak hilang sepenuhnya, melainkan pada tingkat terkendali. Dari mutasi Covid-19, ada ada tiga varian paling umum yakni Alpha, Delta  dan Omicron.

"Dari setiap varian ini ada subvariannya dan mutasi yang paling diwaspadai adalah arcturus atau subvarian omicron XBB.1.16,” kata Prof Wiku dalam pertemuan virtual bersama Pfizer, Rabu (30/8/2023).

Arcturus merupakan salah satu dari 600 subvarian Omicron yang pertama kali diidentifikasi pada Januari 2023 dan mulai dipantau WHO sejak 22 Maret lalu. Varian ini memiliki satu mutasi tambahan pada spike protein, yang dalam penelitian laboratorium menunjukkan peningkatan infeksivitas dan patogenisitas. Mutasi ini punya potensi penyebaran lebih cepat dan tingkat infeksi lebih tinggi.

“Jadi masih perlu meningkatkan kewaspadaan dan kedisiplinan protokol kesehatan,” kata Prof Wiku.

Prof Wiku menjelaskan karakteristik mutasi ini masih satu keluarga dengan Covid-19. Jadi gejalanya kurang lebih akan mirip dengan sebelumnya. 

Dia menekankan agar tidak melepaskan perlindungan, baik itu protokol kesehatan maupun vaksinasi. Selama punya proteksi diri dengan perilaku bersih dan sehat, serta imunitas tubuh bagus, maka jangan khawatir agar bisa terhindar dari ancaman ini.

Buktinya, kata dia, sekarang virus tetap ada, namun yang tidak tertular tetap banyak, meskipun terpapar. Untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait ini, menurut Prof Wiku, tidak hanya bisa di satu daerah. 

Sebab jika tidak diteliti di tempat lain, maka belum ada bukti ilmiah yang kuat. Karena di setiap negara, responnya bisa berbeda-beda dan perlu waktu yang lama. 

“Penelitian sebaiknya gak ditujukan hanya untuk Covid-19 bisa untuk cara menular yang beda dari Covid-19 dan pengembangan vaksin harusnya ke arah sana. Kalau meneliti Covid-19 ternyata ancaman dari yang lain, jadi kita punya ketahanan,” kata dia lagi. 

Pandemi bisa berubah jadi endemi karena meningkatnya kekebalan masyarakat melawan virus. Kemudian dikarenakan terjadi penurunan angka infeksi alamiah sehingga kematian akibat virus menurun drastis.

Ketika kekebalan kelompok (herd immunity) terbentuk, pandemi menjadi endemi. Hal ini diprediksi berpola seperti penyakit ISPA, influenza, dan lainnya.

Sebagian orang mengalami gejala ringan atau tidak bergejala, tetapi bukan berarti ancaman Covid-19 sudah tidak mengintai lagi. Prof Wiku menganjurkan beberapa cara untuk mencegah dari risiko endemi Covid-19 sebagai berikut:

1. Vaksinasi sampai booster kedua terutama bagi kelompok masyarakat rentan, seperti lansia, memiliki komorbid dan obesitas.

2. Menjaga kebersihan, dianjurkan tetap mebawa hand sanitizer, dan cuci tangan memakai sabun.

3. Menjaga jarak dengan orang dalam keadaan tidak sehat atau berisiko tertular dan menularkan, jadi harus saling menjaga satu sama lain.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement