Ahad 23 Jul 2023 03:03 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Terima Pesan Mencurigakan?

Pengguna diimbau untuk selalu install aplikasi dari sumber resmi.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Natalia Endah Hapsari
Modus penipuan phising yang berbeda kali ini dengan cara pengguna diminta untuk mengeklik tombol View untuk mengakses dokumen yang dibagikan.
Foto: dok BRI
Modus penipuan phising yang berbeda kali ini dengan cara pengguna diminta untuk mengeklik tombol View untuk mengakses dokumen yang dibagikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Masyarakat kembali dihebohkan dengan modus phising yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini modus penipuan yang terjadi berisi persetujuan untuk tetap menggunakan tarif transaksi perbankan yang lama yaitu Rp 6.500 per transaksi, bukan Rp 150.000 per bulan untuk melakukan transaksi perbankan tidak terbatas dan akan di-autodebet langsung tiap bulan. Untuk mengakses itu, pengguna diminta untuk menekan tombol 'View'.

Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha  berpesan bahwa pada saat menerima informasi terkait perbankan, ada baiknya melakukan pemeriksaan kembali (crosscheck) kepada customer service (CS) dari bank tersebut melalui nomor resmi di website ada di balik kartu ATM.

Baca Juga

“Jangan menghubungi nomor telepon yang tertera di surat edaran atau WhatsApp, karena bisa jadi nomor tersebut adalah nomor pelaku yang akan lebih lanjut menjelaskan kepada korban bahwa pemberitahuan tersebut adalah resmi. Jika kita menghubungi CS melalui aplikasi perpesanan atau media sosial, pastikan akun tersebut sudah terverifikasi dengan tanda centang berwarna hijau atau biru,” ujar Pratama menjelaskan ketika dihubungi Republika belum lama ini.

Selain itu, dia juga menyebutkan beberapa cara lain yang bisa dilakukan supaya terhindar dari penipuan dan serangan siber. Caranya, selalu install aplikasi dari sumber resmi seperti Google PlayStore atau iOS AppStore serta perbarui sistem operasi, aplikasi, dan perangkat lunak lainnya dengan patch keamanan terbaru.

 

Lalu, Pratama menyebutkan,  pasang dan perbarui perangkat lunak keamanan kuat seperti antivirus serta antimalware yang akan mengingatkan kita terhadap aplikasi berbahaya atau tautan phising, jangan mengeklik tautan atau membuka lampiran dari email atau pesan yang mencurigakan dan dari sumber yang tidak dikenal atau berisi permintaan yang tidak biasa, serta buat salinan data penting Anda secara teratur dan simpan salinan tersebut di tempat yang terpisah.

“Kita juga perlu untuk meningkatkan kesadaran tentang ancaman dan cara mengidentifikasi serangan siber, hindari menguji situs web yang mencurigakan atau tidak terpercaya terutama yang berisi konten ilegal atau berbahaya, dan gunakan kata sandi yang kuat dan unik untuk akun-akun daring Anda, serta manfaatkan fitur 2 Factor Authentication di manapun memungkinkan,” kata Pratama.

“Kita juga perlu secara berkala melakukan pergantian password dan tidak sembarangan menghubungkan perangkat kita ke akses Wi-Fi gratisan serta menggunakan layanan pengisian daya gratis,” ujarnya lagi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement