Selasa 04 Apr 2023 17:35 WIB

Psikiater Ungkap Manfaat Memasak Bagi Kesehatan Mental

Mengonsumsi makanan yang dimasak sendiri akan membantu tubuh berfungsi lebih baik.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Memasak (ilustrasi). Memasak memiliki manfaat bagi kesehatan mental.
Foto: Republika/Mardiah
Memasak (ilustrasi). Memasak memiliki manfaat bagi kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam memoar laris Elizabeth Gilbert pada 2006 yang berjudul Eat, Pray, Love, sang penulis menyelami rasa yang membentuk masakan Italia untuk mengatasi kesedihan yang dipicu oleh perceraian dan kehidupan yang stagnan. Dalam film karya Nora Ephron tahun 2009, Julie & Julia, karakter Amy Adams bersumpah untuk memasak 524 resep yang membentuk buku masak ikonik Julia Childs Mastering The Art of French Cooking untuk meredakan rasa frustrasi yang dia rasakan di pekerjaannya.

Dalam beberapa kasus, kreativitas karakter dan kemampuannya untuk mengatasi rasa penderitaan dan kesedihan mereka bergantung pada pengabdian dan hubungan mereka dengan makanan. Seperti dalam film Burnt, karakter diperankan oleh aktor Bradley Cooper mendalami seni kuliner untuk meredakan kecanduan narkoba.

Baca Juga

Berpikir, berbicara, dan melihat makanan, akan menenangkan jiwa. Dilansir laman Huffpost pada Selasa (4/4/2023), sebuah studi tahun 2016 oleh University of Otago di Selandia Baru yang diterbitkan dalam Journal of Positive Psychology, menyebutkan bahwa kegiatan kreatif seperti memasak dan membuat kue secara langsung berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan. Peneliti meminta 658 mahasiswa untuk mencatat aktivitas mereka dan kondisi mentalnya selama 13 hari.

Mereka pun mengambil bagian untuk memasak resep baru. Hasilnya, mahasiswa melaporkan merasa lebih antusias dan mengalami pertumbuhan positif dari biasanya.

“Tindakan memasak dan kemampuan menyiapkan makanan itu sendiri merupakan tindakan yang sakral,” kata seorang psikiater bersertifikat dengan praktik swasta di New York, Amerika Serikat, dr Sudhir Gadh.

Memasak adalah sesuatu yang dilakukan dengan hati-hati dan fokus. Semua orang pasti tidak melakukannya sambil melakukan hal-hal lain dan benar-benar menaruh perhatian pada masakan. Kemampuan untuk fokus sepenuhnya pada tugas yang ada, memungkinkan seseorang dengan mudah memblokir gangguan yang dapat menyebabkan stres dan kecemasan.

Aroma, warna, dan rasa masakan dapat memberikan kenyamanan lebih dibandingkan aktivitas merajut atau mewarnai. Ahli gizi terdaftar di Memorial Hermann Health System di Houston, Sarah Wagner, mengatakan semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk memasak, semakin banyak pula waktu yang ingin dihabiskan untuk makan dan menghargai semua kerja keras yang telah dilakukan.

“Memasak membantu kita menjadi lebih perhatian, memiliki lebih sedikit gangguan, dan lebih bersyukur untuk saat ini,” kata Wagner.

Selain efek terapeutiknya, para ahli berpendapat bahwa mengonsumsi makanan yang dimasak sendiri akan membantu tubuh berfungsi lebih baik secara biologis. Selama pandemi, ahli gizi memperhatikan pentingnya menggunakan bahan utuh di dapur.

“Beberapa orang hanya mengemil sepanjang hari karena berada di rumah, sementara yang lain menyukai makanan utuh dan memasaknya. Mereka adalah orang-orang yang berat badannya turun dan merasa lebih sehat,” kata dia.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement