Selasa 07 Mar 2023 00:29 WIB

Anak Yatim Gantung Diri Akibat Sering di-Bully, Bagaimana Agar Kasus Serupa Tak Terulang?

Kasus bunuh diri sering kali berkaitan dengan depresi.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda
Kampanye setop bullying di sekolah. Relasi pertemanan sehat tanpa perisakan atau bullying perlu diwujudkan.
Foto: Reiny Dwinanda/Republika
Kampanye setop bullying di sekolah. Relasi pertemanan sehat tanpa perisakan atau bullying perlu diwujudkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus bunuh diri anak yatim berusia 11 tahun berinisial MR di Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi sorotan banyak pihak. MR yang masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar (SD) tersebut ditemukan ibunya tewas gantung diri.

MR diduga mengakhiri hidup lantaran tak kuat karena sering di-bully oleh teman-temannya karena tidak memiliki ayah. Psikolog klinis forensik Kasandra Putranto menjelaskan, bunuh diri didefinisikan sebagai aksi melukai diri sendiri secara fatal dengan tujuan untuk mati.

Baca Juga

"Berbagai faktor bisa menjadi penyebab dan pemicu keputusan tersebut," kata Kasandra kepada Republika.co.id, Senin (6/4/2023).

Kasandra menyebutkan, kondisi mental ditemukan berkontribusi antara 47 hingga 74 persen terhadap risiko bunuh diri. Gangguan afektif adalah gangguan yang paling sering ditemukan dalam konteks ini.

 

Kriteria depresi ditemukan pada 50-65 persen kasus bunuh diri. Kasusnya lebih sering ditemukan pada perempuan daripada laki-laki.

Anak yang melakukan bunuh diri juga ditemukan memiliki keterampilan memecahkan masalah yang lebih buruk daripada rekan-rekan mereka. Perilaku anak ditandai dengan sikap yang agak pasif, memiliki self-esteem rendah, dan pemikiran yang cenderung kaku.

Faktor keluarga seperti riwayat kondisi mental dan kondisi lingkungan anak seperti kesulitan di sekolah dan perundungan alias bullying juga dapat menjadi pendorong munculnya perilaku bunuh diri. Orang terdekat disebutnya perlu mencermati tanda anak tertekan secara psikis.

Anak-anak yang mengalami tekanan dapat menunjukkan beberapa reaksi psikologis dan fisik. Beberapa di antaranya ialah emosi yang tidak stabil, perasaan sedih atau putus asa yang berkepanjangan, menarik diri dari lingkungan, perubahan nafsu makan (makan berlebih atau tidak ingin makan sama sekali), sulit berkonsentrasi, juga penurunan kemampuan verbal dan nonverbal dalam berkomunkasi.

Nyatanya, sebanyak 90 persen individu yang melakukan tindak bunuh diri memiliki permasalahan kesehatan mental. Permasalahan tersebut paling banyak ditemukan berkaitan dengan depresi.

Dengan kata lain, individu yang memutuskan untuk melakukan tindak bunuh diri biasanya merasakan berbagai tekanan yang tidak bisa dia hadapi. Untuk mencegah hal ini, individu maupun lingkungan sekitar sebisa mungkin harus menyadari kondisi psikis individu.

Apabila terdapat karakteristik yang mengarah pada kondisi serius tersebut, maka sudah seharusnya melakukan pemeriksaan psikologis untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Bagaimana agar kasus seperti MR tidak terulang?

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement