Selasa 07 Feb 2023 07:33 WIB

Buka Jendela Mobil Ketika Macet? Pikir 2x Sebelum Melakukannya

Polutan dapat mengganggu kemampuan Anda untuk berpikir, bahkan memicu gejala depresi.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti
Membuka kaca mobil ketika macet. Menurut studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health, polusi lalu lintas yang ada di jalan, ternyata juga bisa merusak otak. Untuk itu, Anda sebaiknya berpikir 2x sebelum melakukannya. (ilustrasi)
Foto: pixabay
Membuka kaca mobil ketika macet. Menurut studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health, polusi lalu lintas yang ada di jalan, ternyata juga bisa merusak otak. Untuk itu, Anda sebaiknya berpikir 2x sebelum melakukannya. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terjebak dalam kemacetan lalu lintas tidak hanya terasa menjengkelkan. Kini, menurut studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health, polusi lalu lintas yang ada di jalan, ternyata juga bisa merusak otak.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan polusi udara terkait lalu lintas dengan risiko demensia yang lebih tinggi. Meta analisis yang diterbitkan dalam jurnal Neurology menemukan bahwa risiko kondisi demensia meningkat tiga persen untuk setiap satu mikrogram per meter kubik polusi lalu lintas.

Baca Juga

Sebuah penelitian baru menambah bukti ini dengan menyoroti kerusakan otak yang dapat dipicu oleh asap diesel. Bagi mereka yang tinggal di dekat jalan utama, asap kendaraan bisa sama merusaknya bagi mereka.

Tim peneliti menemukan, menghirup asap diesel selama dua jam dapat menyebabkan penurunan konektivitas fungsional otak. Selain itu, polutan dapat mengganggu kemampuan Anda untuk berpikir, bekerja, dan bahkan memicu gejala depresi.

Untungnya, perubahan otak yang diamati oleh para peneliti tampaknya hanya bersifat sementara, dengan konektivitas peserta dapat kembali normal setelah terpapar. Namun, tim berspekulasi efeknya bisa bertahan lama saat paparannya terus menerus.

Penulis studi Profesor Chris Carlsten, dari University of British Columbia, Kanada, mengatakan selama beberapa dekade, para ilmuwan mengira otak mungkin terlindungi dari efek berbahaya polusi udara. “Studi ini, yang merupakan yang pertama di dunia, memberikan bukti baru yang mendukung hubungan antara polusi udara dan kognisi," ujarnya seperti dilansir laman Express, Selasa (7/2/2023).

Para peneliti secara singkat memaparkan 25 orang dewasa sehat dengan knalpot diesel dan menyaring udara pada waktu yang berbeda di laboratorium. Tim juga mengukur aktivitas otak sebelum dan sesudah setiap paparan, menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI).

Mereka kemudian menganalisis perubahan dalam default mode network (DMN), otak, yang menggambarkan satu set wilayah otak yang saling terhubung yang memainkan peran penting dalam ingatan dan pemikiran internal. FMRI mengungkapkan, knalpot menurunkan konektivitas fungsional di wilayah luas DMN, dibandingkan dengan udara yang disaring.

"Kami tahu bahwa konektivitas fungsional yang berubah di DMN telah dikaitkan dengan penurunan kinerja kognitif dan gejala depresi, jadi mengkhawatirkan melihat polusi lalu lintas mengganggu jaringan yang sama ini," ujar penulis studi pertama, Profesor Jodie Gawryluk.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya dampak fungsional dari perubahan ini. Namun, ada kemungkinan hal itu dapat mengganggu pemikiran atau kemampuan orang untuk bekerja.

Selain itu, tim menyarankan agar orang-orang memperhatikan udara yang mereka hirup. “Orang-orang mungkin ingin berpikir dua kali pada saat mereka terjebak kemacetan dengan jendela diturunkan," kata Carlsten.

Menurut dia, penting untuk memastikan filter udara mobil berfungsi dengan baik. Jika Anda sedang berjalan atau bersepeda di jalan yang sibuk, pertimbangkan untuk mengalihkan ke rute yang tidak terlalu sibuk.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement