Rabu 28 Dec 2022 09:16 WIB

TBC pada Anak karena Orang Tua Kerap Menyepelekan Batuk

Masyarakat anggap gejala-gejala TBC sebagai penyakit batuk biasa dan tidak serius.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ratna Puspita
Ilustrasi. Kasus anak terkonfirmasi tuberkulosis (TBC) seperti di Bantul, DI Yogyakarta, timbul akibat kebiasaan masyarakat yang acuh dengan kesehatan, terutama terlalu menyepelekan batuk.
Foto: www.freepik.com.
Ilustrasi. Kasus anak terkonfirmasi tuberkulosis (TBC) seperti di Bantul, DI Yogyakarta, timbul akibat kebiasaan masyarakat yang acuh dengan kesehatan, terutama terlalu menyepelekan batuk.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Dokter spesialis paru Universitas Airlangga (Unair) Arief Bakhtiar berpendapat, kasus anak terkonfirmasi tuberkulosis (TBC) seperti di Bantul, DI Yogyakarta, timbul akibat kebiasaan masyarakat yang acuh dengan kesehatan, terutama terlalu menyepelekan batuk. Masyarakat sering kali menganggap gejala-gejala TBC sebagai penyakit batuk biasa dan tidak serius sehingga enggan untuk memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. 

"Bisa dipastikan anak yang terkonfirmasi TBC merupakan pasien yang tertular karena dalam lingkungannya terdapat orang dengan TBC positif, namun tidak berobat dan tidak menggunakan masker," kata Arief, Rabu (28/12/2022).

Baca Juga

Dosen Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Unair itu menjelaskan, kasus TB pada anak umumnya tidak menular, kecuali ditemukan keterlibatan TB pada paru yang aktif. TB pada anak adalah akibat tertular dari orang sekitarnya atau dari lingkungan keluarga yang menderita TB paru. 

Penularan ini bisa diakibatkan oleh TB paru aktif, baik yang belum terdeteksi atau yang sudah terdeteksi namun belum menjalani pengobatan. "Bahkan, banyak dari lingkungan mereka yang dengan status TBC positif tapi sering tidak menyadari dan hal itu didukung dengan kontak intens dengan waktu yang cukup lama," ujar Arief.

 

Arief menambahkan, anak yang tertular TBC memiliki gejala yang hampir sama dengan batuk pada umumnya. Beberapa gejala penyakit TBC pada anak antara lain nafsu makan menurun, berat badan turun dan tidak naik, atau naik tetapi tidak sesuai grafik tumbuh. 

Gejala selanjutnya gagal tumbuh, demam tidak tinggi yang kronik atau berulang dengan penyebab yang tidak jelas, anak tidak aktif (lemas, letih, malaise kronik), serta batuk kronik selama kurang lebih dua minggu. "Orang tua seringkali tidak menyadari jika anak mereka terinfeksi TBC, sehingga mereka hanya memberikan perawatan biasa tanpa memeriksakan ke Puskesmas atau dokter umum," kata Arief.

Arief juga menjelaskan, faktor kekebalan tubuh anak menjadi salah satu hal penting yang berpengaruh pada proses penularan. Terlebih anak dengan kondisi gizi buruk atau stunting cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lemah sehingga dapat dengan mudah terinfeksi TBC.

"Pada anak stunting atau kurang gizi umumnya proses penularan cenderung lebih cepat dikarenakan TBC dapat dengan mudah masuk di kondisi pasien dengan kekebalan tubuh yang rendah," ujarnya.

Arief mengimbau para orang tua agar lebih jeli membedakan batuk biasa pada anak dan gejala TBC. Apabila anak sudah mulai bergejala, segera lakukan pemeriksaan ke pusat layanan kesehatan. 

Apalagi saat ini, pelayanan pengobatan TBC tersedia di puskesmas terdekat, sehingga lebih mudah dijangkau masyarakat. "Saat ini pemerintah sudah memberikan akses obat gratis dan perawatan yang mudah dijangkau masyarakat dalam mengobati penyakit TBC," kata Arief.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul melaporkan banyaknya kasus anak terkonfirmasi tuberkulosis (TBC). Dari 1.216 kasus TBC, sebanyak 619 di antaranya adalah anak-anak.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement