Ahad 25 Dec 2022 17:16 WIB

Tren Wisata 2023 Masih Euforia Balas Dendam Pasca-Covid?

Tahun ini target wisman 3,6 juta telah tercapai.

Rep: Santi Sopia/ Red: Muhammad Fakhruddin
Pegunjung berwisata di Candi Prambanan, Sleman, D.I Yogyakarta, Minggu (18/12/2022). Dinas Pariwisata Kab. Sleman mencatat hingga pertengahan Desember 2022, jumlah kunjungan wisata di wilayah Slemat tercatat lebih dari 6,5 juta orang, angka tersebut sudah melebihi target tahun ini yang ditargetkan sebanyak 6 juta kunjungan.
Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Pegunjung berwisata di Candi Prambanan, Sleman, D.I Yogyakarta, Minggu (18/12/2022). Dinas Pariwisata Kab. Sleman mencatat hingga pertengahan Desember 2022, jumlah kunjungan wisata di wilayah Slemat tercatat lebih dari 6,5 juta orang, angka tersebut sudah melebihi target tahun ini yang ditargetkan sebanyak 6 juta kunjungan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Tren industri wisata 2023 diprediksi masih akan bicara euforia revenge tourism alias balas dendam pascapandemi Covid-19. Kendati mulai pulih, namun belum dapat sepenuhnya kembali normal setelah Covid.

Ketua PHRI Kota Bogor Yuno Abeta Lahay mengatakan  kemungkinan tahun depan, wisatawan masih saling terbatas di seluruh dunia. Memang ada beberapa negara yang sudah membuka batasannya.

Baca Juga

“Indonesia belum, baru beberapa bandara buka dan asing juga tidak bisa 100 persen masuk ke Indonesia,” kata Yuno.

Pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2022, 16 Desember, Kemenparekraf menargetkan jumlah turis mancanegara di angka 3,5-7,4 juta kunjungan, wisatawan domestik sebanyak 1,2-1,4 miliar pergerakan, dan devisa pariwisata yang mencapai 2,07-5,95 miliar dolar AS.

Tahun ini target wisman 3,6 juta telah tercapai, bahkan terus bertumbuh hingga 5 juta kunjungan. Menurut Yuno, hal itu cukup menggembirakan, meskipun perlu diingat bahwa di tahun ini ada event khusus G20 di Bali yang belum tentu terulang di tahun depan. 

Yuno menambahkan ada segala macam cara dapat dilakukan untuk meningkatkan pariwisata. Akan tetapi saat ini bukan hanya bicara peningkatan, tetapi juga agar harga-harga bisa dikembalikan seperti sebelum pandemi.

“Bisa dinaikan lagi pelan-pelan, karena peningkatan tanpa diikuti harga yang baik juga kurang baik, profit kurang baik sebelum pandemi,” tambah Yuno. 

Adapun pemerintah juga telah meluncurkan Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional (IPKN) untuk menumbuhkan kesadaran berbagai pihak akan pentingnya pembangunan ekosistem pariwisata. Diharapkan sektor pariwisata Indonesia akan semakin unggul dan dikenal oleh pasar internasional. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement