REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktor Steven Seagal menyebut dirinya sebagai "diplomat" ketika tampil di salah satu berita yang dimuat media pemerintah Rusia. Ia berkunjung ke kamp tawanan perang, di mana ada narapidana Ukraina yang bulan lalu dibakar sampai mati.
Telah menjadi warga negara Rusia sejak 2016 sambil tetap mempertahankan kewarganegaraan AS-nya, Seagal mengklaim dirinya mendatangi penjara itu untuk melihat fakta dari apa yang telah terjadi. Bintang aksi 1990-an tersebut juga mengulangi propaganda Kremlin bahwa Kyiv harus disalahkan.
"Saya tahu sedikit tentang hal-hal itu. Saya dapat memberi tahu kalian, satu miliar persen, itu bukan bom yang bisa meledak dari lantai dasar," ujar Seagal.
Dilansir Aceshowbiz, Sabtu (13/8/2022), Seagak mengatakan ada sebuah rudal masuk dari luar dan meledakkan semuanya. "Seperti yang telah saya katakan, saya seorang diplomat, dan saya bangga menjadi diplomat yang cukup baik," kata aktor berusia 70 tahun itu.
Seagal menyebut bahwa dia sedang memproduksi film dokumenter yang netral tentang perang Rusia-Ukraina, meskipun ia mengaku sebagai pemuja Putin. Pada 29 Juli 2022, Penjara Olenivka, Donbas, yang diduduki oleh pasukan pro Rusia dibakar dan di dalamnya terdapat sekitar 50 tahanan perang Ukraina, semua tewas.
Banyak veteran pertempuran untuk Mariupol juga berada di sana. Rusia menuduh Ukraina yang memerintahkan serangan ke penjara, dan melakukannya dengan menggunakan rudal HIMARS yang dipasok AS.
Itu telah mendatangkan malapetaka di belakang garis depan Putin. Tampaknya, Rusia mengirim Seagal untuk melakukan inspeksinya sendiri.
Seagal merupakan seniman bela diri yang hit pada 1990-an lewat perannya dalam film Hard to Kill dan Under Siege. Karier filmnya hancur, ketika dia dituduh oleh banyak perempuan melakukan serangan seksual, dan dituduh menganiaya pemeran pengganti di set.