Kamis 28 Jul 2022 10:47 WIB

Waspada Fenomena Bediding yang Bisa Buat Badan Seperti Menggigil Kedinginan

'Bediding' merupakan perubahan suhu mencolok di awal musim kemarau.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Nora Azizah
'Bediding' merupakan perubahan suhu mencolok di awal musim kemarau.
Foto: BBC
'Bediding' merupakan perubahan suhu mencolok di awal musim kemarau.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat ini perubahan suhu terjadi secara ekstrem. Siang hari panas begitu terik, sementara sore hari hujan bisa turun dengan derasnya. Hal ini tentu saja memiliki dampak pada kesehatan. 

Cuaca ekstrem juga menyebabkan satu kondisi yang disebut bediding. Namun, sebenarnya, apa itu bediding?

Baca Juga

Bediding adalah istilah untuk menyebut perubahan suhu yang mencolok khususnya di awal musim kemarau. Suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi, sementara di siang hari suhu melonjak hingga panas menyengat.

Hal tersebut diakui oleh praktisi kesehatan, Prof dr Ari Fahrial Syam. Ia mengakui saat ini suhu udara di beberapa kota di Indonesia turun, suhu udara menjadi dingin terutama pagi hari dan malam hari. 

 

Hal ini terungkap dari beberapa twitter yang mengupdate tentang udara dingin tersebut. Bahkan di Jakarta, kini kita merasakan cuaca panas di siang hari dan dingin di malam hari disertai hujan deras. Ini membuat banyak orang merasa kedinginan bahkan menggigil.

"Akibat perubahan suhu ekstrem orang menjadi seperti menggigil kedinginan," ungkapnya ketika dihubungi Republika.co.id, Kamis (28/7/2022).

Menurutnya, fenomena bediding ini sudah lama terjadi bahkan sejak global warming (pemanasan global) yang terjadi di bumi. Hal tersebut, terasa hingga saat ini.

Prof Ari yang juga merupakan dokter spesialis penyakit dalam mengatakan, masyarakat harus mengantisipasi udara dingin tersebut agar tidak mengalami gangguan kesehatan berupa mimisan, batuk pilek, dan bibir pecah-pecah sehingga menurunkan nafsu makan. Tentu kondisi ini sangat mengganggu masyarakat yang memang sedang khawatir akan pandemi global Covid 19.

"Oleh karena itu masyarakat harus  dapat mensiasati udara dingin tersebut agar tetap dalam keadaan sehat. Daya tahan tubuh tetap terjaga," sarannya.

Ia menambahkan, ada eberapa penyakit yang timbul selama cuaca dingin. Penyakit tersebut salah satunya penyakit yang sudah ada sebelumnya pada masyarakat yang mengalami kekambuhan karena udara yang dingin, antara lain asma (sesak napas), pilek alergi (rinitis alergi), sinusitis, serta alergi kulit karena udara dingin. 

Selain itu, ada juga penyakit yang timbul langsung akibat udara dingin, yakni kulit menjadi kering, kulit telapak kaki pecah-pecah, timbul pecah-pecah pada bibir dan kadang kala timbul mimisan. 

Menurutnya, jika paparan udara dingin terus berlangsung akan terjadi penurunan suhu tubuh (hipotermia) yang akan mengancam jiwa orang yg mengalami hipotermia tersebut. Masyarakat yang mempunyai risiko tinggi gangguan kesehatan karena cuaca dingin, yaitu orang usia lanjut, masyarakat dengan komorbid, penyakit diabetes, gangguan jantung, dan pembuluh darah. 

Prof Ari mengatakan, untuk menyiasati udara dingin kita harus menutupi badan kita agar udara dingin yang menyengat tidak langsung kontak dengan kulit. Gunakan jaket yang dapat menutupi seluruh tubuh kita, diusahakan untuk menggunakan pakaian berlapis gunakan tutup kepala tambahan, kaus kaki tebal dan sarung tangan selama berada di luar.  

Saat ini kondisi pandemi meminta kita harus selalu memakai masker terutama saat kita berada di luar rumah atas saat  berada di kantor Ketika duduk bersama orang lain. Bahkan di dalam rumah sendiripun kita perlu memakai masker. Ketika ada keluarga yang berkunjung. 

Usahakan selalu untuk menggunakan pakaian yang kering dan bersih. Udara dingin yang menyengat dan langsung kontak dengan kulit akan menyebabkan kulit menjadi kering. Oleh karena itu harus selalu mengolesi lotion pada kulit tangan dan telapak kaki agar kulit tidak mengering dan tidak menimbulkan luka. 

Bibir dan lubang hidung juga diusahakan untuk selalu diolesi krim tentunya krim yang diperuntukan untuk bibir dan hidung agar bibir tidak kering dan tidak menimbulkan luka yang pada akhirnya akan mengurangi nafsu makan. Mimisan atau keluar darah dari hidung sering terjadi pada jamaah yang mengalami kekeringan pada lubang hidungnya. 

"Minum yang cukup untuk mencegah agar tidak jatuh kedalam dehidrasi atau  kekurangan cairan yang akan memperburuk kesehatan akibat udara dingin tersebut," kata Prof Ari.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement