Kamis 16 Jun 2022 17:19 WIB

Covid-19 Tembus 1.000 Kasus, Ini 5 Hal yang Harus Diperhatikan

Kasus Covid-19 di Indonesia naik 10 kali lipat dalam setengah bulan.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Nora Azizah
Kasus Covid-19 di Indonesia naik 10 kali lipat dalam setengah bulan.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Kasus Covid-19 di Indonesia naik 10 kali lipat dalam setengah bulan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan, saat ini kasus konfirmasi Covid-19 naik sepuluh kali lipat dalam setengah bulan. Diketahui, pada Jumat (3/6), Indonesia mengonfirmasi 107 kasus Covid-19 dan pada Rabu (15/6) kasus Covid-19 telah menembus angka 1.242.

"Ada lima hal yang perlu jadi perhatian. Pertama, dicari dengan lebih pasti penyebab kenaikan kasus," ujar Tjandra kepada Republika, Kamis (16/6/2022).

Baca Juga

Pertama, adalah dengan memperbanyak whole genome sequencing (WGS). WGS adalah prosedur laboratorium UNTUK menentukan urutan basa dalam genom suatu organisme dalam satu proses.

Kedua, melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) mendalam pada semua atau sebagian besar kasus baru tiap harinya. Masyarakat, juga harus tetap menjaga protokol kesehatan sesuai aturan yg kini masih berlaku.

 

"Vaksinasi juga terus ditingkatkan, sekarang vaksinasi 2 kali baru 60-an persen dari jumlah penduduk dan booster bahkan baru 20an persen," kata Tjandra.

Keempat, perhatian khusus untuk kelompok risiko tinggi (risti), seperti lansia, komorbid, dan lainnya agar lebih ketat memakai masker dan menghindari kerumunan dan bila mungkin agar segera mendapatkan booster kedua. Kelima, kata dia, kenaikan kasus ini kembali menegaskan bahwa situasi saat ini masih dalam pandemi.

"Dan situasi dapat saja berkembang unpredictable", walau tentu kita berharap yang terbaik," ujar Tjandra.

Kasubbid Dukungan Kesehatan Satgas Covid-19 Nasional, Alexander Ginting meyakini, selain disebabkan oleh munculnya varian baru, lonjakan kasus Covid-19 juga disebabkan karena faktor lainnya. Salah satunya adalah longgarnya penerapan protokol kesehatan di masyarakat.

"Jadi, memang benar bahwa setiap ada perubahaan varian, itu menyebabkan terjadi kenaikan kasus. Tapi kenaikan kasus ini juga dibarengi oleh faktor-faktor lain. Salah satunya faktor adalah terjadinya pelonggaran protokol kesehatan di masyarakat, individu, keluarga ataupun komunitas," katanya dalam diskusi daring yang digelar Forum Merdeka Barat 9 bertema "Awas, Omicron Kembali Mengintai Indonesia", Kamis (16/6/2022).

Faktor kedua, sambung Alex, seiring dengan semangat perbaikan dan pemulihan ekonomi nasional yang menyebabkan terjadinya peningkatan mobilitas. Mobilitas ini, Alex mengakui, tertuang dalam surat edaran Satgas Covid-19 tentang Protokol Kesehatan bagi Pelaku Perjalanan Dalam Negeri Nomor 18 dan Surat Edaran Nomor 19 tentang Protokol Kesehatan bagi Pelaku Perjalanan Luar Negeri.

"Jadi, ini juga memengaruhi terjadinya mobilitas yang tinggi. Artinya banyak orang Indonesia ke luar dan banyak orang luar masuk Indonesia," ungkapnya.

Faktor lainnya, kata dia, adalah pelonggaran peraturan yang tidak mewajibkan pelaku perjalanan melakukan test PCR dan lain-lain. Hal ini seiring dengan vaksinasi yang memadai. Sehingga, pelonggaran persyaratan dialihkan ke persyaratan vaksinasi.

Alex menyampaikan, pandemi Covid-19 belum berakhir dan corona virus ini akan terus bermutasi dan menular. Untuk itu, pemerintah akan melanjutkan penerapan strategi pengendalian Covid-19 berlapis yang selama ini diterapkan.

"Sekarang kita masuk dalam penerapan prokes di tingkat desa dan kelurahan yang disebut skala mikro. Ini yang tidak boleh kemah. Sebab ini bagian dari sistem ketahanan negara," katanya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement