Jumat 18 Feb 2022 19:03 WIB

Sebagian Warga AS Masih Enggan Dapatkan Booster

Jumlah warga AS yang memperoleh booster masih sangat rendah.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Nora Azizah
Jumlah warga AS yang memperoleh booster masih sangat rendah.
Foto: Pxhere
Jumlah warga AS yang memperoleh booster masih sangat rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Untuk menekan angka Covid 19, salah satu cara yang harus dilakukan adalah vaksinasi. Kini, sudah ada beberapa orang yang melakukan suntikan booster untuk menambah kekebalan tubuhnya. Namun, masih ada pula yang enggan melakukannya.

Pada 14 Februari, pakar kesehatan masyarakat yang bekerja dengan Scripps Research nirlaba, Eric Topol, MD, mengatakan, ada masalah booster yang muncul di AS di antara individu yang divaksinasi. Menurut pakar virus itu, jumlah orang yang divaksinasi penuh di negara itu setelah suntikan booster mereka sangat rendah.

Baca Juga

Data terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan lebih dari 53 persen orang yang memenuhi syarat untuk suntikan tambahan belum menerimanya. Sebelumnya, jumlah dosis vaksin yang diberikan di AS dari satu minggu ke minggu berikutnya telah turun 19,3 persen. 

"Masalah boosting adalah masalah yang sangat serius," ujar Topol seperti dilansir dari laman BestLife Online, Jumat (18/2/2022).

Pakar virus mengatakan, sementara jumlah orang yang tidak divaksinasi di AS telah menjadi masalah yang berkelanjutan bahkan menjadi semakin jelas seiring minggu-minggu berlalu. Ditambah lagi banyak orang yang divaksinasi penuh sekarang memilih untuk tidak mendapatkan suntikan booster meskipun ada dorongan kuat dari ahli kesehatan.

Sebuah studi CDC terhadap hampir 300 rumah sakit dan 400 unit gawat darurat dari Agustus 2021 hingga awal Januari 2022 menemukan bahwa dosis ketiga vaksin Pfizer atau Moderna mengurangi kemungkinan kunjungan sebesar 82 persen selama penyebaran Omicron. Sebagai perbandingan, efektivitas dua suntikan kedua vaksin selama jangka waktu ini turun menjadi hanya 38 persen enam bulan setelah dosis kedua.

"Vaksin bertahan dengan sangat baik dan kemudian kehilangan keefektifannya. Ini adalah vaksin tiga suntikan dan kita harus mengklasifikasikannya seperti itu," jelas Topol.

Tanpa lebih banyak orang yang dilindungi secara optimal dengan suntikan booster, Topol mengatakan kemungkinan varian lain bisa muncul dalam beberapa bulan mendatang dan merusak kemajuan apa pun yang telah dibuat di AS.

"Kami siap menghadapi masalah," ujarnya.

Beberapa ahli mengatakan sebagian besar masalahnya terletak pada perdebatan yang membingungkan tentang perlunya booster yang menghabiskan sebagian besar paruh kedua tahun 2021.

"Jelas bahwa upaya booster gagal. Saya pikir bukti sekarang luar biasa bahwa booster bukan hanya suplemen opsional, tetapi merupakan bagian dasar dari perlindungan," Jason Schwartz , PhD, pakar kebijakan vaksin di Universitas Yale.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement