Selasa 17 Aug 2021 19:49 WIB

Flores the Singing Island Ramu Kekayaan Musik Flores

Festival 'Flores the Singing Island' dibuka dengan penampilan puluhan musisi.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Para musisi Flores yang memeriahkan festival musik virtual Flores the Singing Island. Selain mempromosikan musik Flores, festival juga digelar untuk merayakan HUT ke-76 RI.
Foto: Tangkapan Layar
Para musisi Flores yang memeriahkan festival musik virtual Flores the Singing Island. Selain mempromosikan musik Flores, festival juga digelar untuk merayakan HUT ke-76 RI.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Festival musik virtual “Flores the Singing Island” sukses dibuka dengan penampilan kolaborasi dari puluhan musisi Flores. Para musisi yang bernyanyi dari rumahnya masing-masing membawakan tembang Flores the Singing Island hasil karangan musisi neotradisi Ivan Nestorman.

Lagu itu membawa pesan kepada dunia bahwa Flores tidak hanya kaya dengan keindahan alamnya, namun juga mempunyai potensi yang besar dalam hal musik. Ivan meramu lagu itu dengan nada sederhana dan instrumen yang khas. Sementara lirik lagu dibuat dalam bahasa Inggris, bukan bahasa daerah Flores.

Baca Juga

“Lagu Flores the Singing Island saya tulis memang dalam bahasa Inggris. Tujuannya agar pesan itu diketahui secara lebih luas, bukan hanya di dalam negeri namun juga luar negeri,” kata Ivan.

Setelah itu, giliran berbagai sanggar-sanggar musik yang berdomisili di Flores unjuk gigi. Flores Human Orchestra misalnya, menampilkan lagu etnis Flores dengan dengan format akapela, folk dan modern. FHO juga membuat bentuk aransemen dengan menggabungkan unsur-unsur kekinian dengan tetap mempertahankan nuansa tradisional.

 

Lalu, para seniman dari Kabupaten Manggarai juga memberikan penampilan terbaiknya dengan membawakan lagu daerah “Wela Rana”. Lagu ini bercerita tentang ajakan untuk kembali mencintai alam.

Grup vocal akapela Jamaica Cafe juga ikut menggoyang penonton di rumah. Grup yang beranggotakan enam orang tersebut membawakan lagu “Gemufamire” ciptaan Nyong Franco dan lagu “Mogi Dheo Keze Walo” ciptaan Ivan Nestorman.

“Kami punya pengalaman menarik lewat lagu Gemufamire. Kami pernah konser di Jepang, dan setiap kami bawakan lagu Gemufamire, pasti semua orang joget, pecah,” kata salah satu personal sebelum tampil.

Penampilan dari para musisi muda Flores juga tak kalah istimewa. Paul Hanny Wadhi, Vian D’Bass, Stevan Hege, Philip Lagabelo, Dian Sorowea, Ela Jelaha dan Iqua Tahlequa tampil berkolaborasi membawakan lagu “The Cape of Flower” ciptaan Ivan Nestorman.

Selain bertujuan untuk mempromosikan potensi musik dari Flores, festival “Flores the Singing Island” juga menjadi kado istimewa dari musisi Flores untuk HUT ke-76 Indonesia. Melalui beragam lagu dan alat musik yang disajikan, kita bisa semakin bangga dengan kekayaan dan keragaman budaya yang dimiliki Indonesia.

“Ini adalah persembahan istimewa dari kami untuk Indonesia. Kami para musisi Flores baik yang saat ini ada di Flores bahkan diaspora berkolaborasi untuk menyukseskan acara ini. Kami akan mengemasnya dalam sebuah video panjang, karena pandemi jadi tapping dari jauh-jauh hari,” kata Ivan Nestorman selaku penggagas festival.

Ivan juga mengisahkan bahwa istilah Flores the Singing Island pertama kali digaungkan oleh etnomusikog asal Belanda, Jaap Kuns. Jaap pernah mampir di Flores dan merekam musik-musik di sana pada tahun 1930. Jaap mengutararakan bahwa meskipun dia datang dengan harapan tinggi ke pulau itu, tetap saja ia terkagum-kagum melihat kenyataan musikal yang dijumpai di sana baik berupa alat musik maupun ragam nyanyian masyarakat yang unik.

Ketika Jaap mengikuti sebuah festival di Yugoslavia, ia langsung teringat Flores karena apa yang didengarnya sama dengan yang didengarnya di Flores Timur. Ia menyimpulkan bahwa para pelaut Portugis mempunyai banyak kru kapal dari Eropa Timur yang lebih murah bayarannnya. Di Flores, tentu dalam jangka waktu lama telah terjadi pertemuan budaya yang cukup intens.

Di samping harmonisasi yang banyak menggunakan paralel tertz, orang Flores banyak juga menyajikan polifoni, onomatope instrumen musik dalam warna warna lagu dengan penyajian call and respond. Bernyanyi koral merupakan suguhan umum di Flores. Di enklaf Tanjung Bunga mereka mempunyai cara bernyanyi dua bagian dengan harmoni yang rapat seakan akan kedengaran disonan.

Flores menyimpan banyak irama yang khas semisal dolo dolo, bladu bladat, gawi, jai, mbata, ndundundake. Dalam festival ini selain indegenous music, musik neotradisi turut ditampilkan.

Festival yang melibatkan 100 lebih pemusik Flores baik dari pulau maupun diaspora tersebut akan tayang di kanal YouTube Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 17 Agustus 2021. Lalu keesokan harinya akan tayang dikanal YouTube Badan Otorita Pariwisata dan Labuan Bajo Flores dan Nestornatian Channel.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement