Selasa 27 Jul 2021 20:40 WIB

Sastra Digital Dinilai Lebih Mudah Gaet Anak Muda

Memadukan puisi dan modernisasi adalah cara mendekatkan puisi pada anak muda.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Sastra digital (ilustrasi).
Foto: Pixabay
Sastra digital (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Apakah sastra kian berikan dampak positif atau negatif dalam era digital? Pertanyaan ini sepertinya sudah tidak relevan, karena era digital ini adalah sebuah realitas yang harus dihadapi bersama. 

Ini menjadi tantangan bersama bagi semua orang, untuk menjadikan digital sebagai hal positif dalam semua lini. Sastra dalam dunia digital adalah sebuah realitas yang harus dijadikan hal positif. Sastra ini berkaitan erat dengan konten-konten dalam media sosial (medsos), Youtube, Twitter, Instagram, dan lainnya. Para anak muda dihadapkan juga pada budaya membaca, khususnya membaca karya sastra.

"Tapi saya melihat ada peluang baru untuk memanfaatkan medium konten yang sekarang lebih memanfaatkan visual," ujar sastrawan Indonesia, Okky Madasari, dalam webinar virtual bertajuk "Perkembangan Sastra di Ruang Digital: Positif atau Negatif?" yang diadakan oleh PBSI UIN, beberapa waktu lalu.

Para pejuang konten baik tua maupun muda harus menyesuaikan diri dengan kultur media sosial dan lainnya, di mana dalam kultur media sosial sekarang ini, visual merupakan fokus utama dalam menyemarakkan industri kreatif terutama sastra di Indonesia.

Jadi karya sastra, puisi-puisi dari beberapa penyair, diolah petikan puisinya menjadi sebuah puisi yang sangat relevan dengan kondisi saat ini, dan mebuat orang merasa terkait. Sementara bagi orang pecinta sastra, pasti tahu petikan puisi itu karya Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, atau Subagio Sastrowardoyo.

"Memadukan antara puisi dan modernisasi dalam dunia digital adalah cara kami untuk mendekatkan puisi dan karya-karya sastrawan ini pada generasi di masa sekarang," ujar Okky.

Baginya, siapapun tidak perlu repot menolak bahwa memang anak sekarang lebih suka visual, anak sekarang lebih suka tampilan yang disesuaikan dengan feed Instagram dan lainnya. Karena itu, mempelajari bagaimana karakter anak dibentuk oleh sosial media, itu juga penting.

"Kita harus menjembatani itu, bukan berarti kita enggak suka nih, atau selera rendah. Anak sekarang maunya yang visual, yang teks pun pendek saja,” kata penulis buku Maryam itu.

Jembatan itu hasilnya akan membawa generasi digital ini berkenalan dengan sastra dan masuk ke dunia sastra. Ini salah satu cara penyajian visual, penyajian puisi, dan tidak sekedar menyajikan puisi-puisi yang sudah ada, tapi bagaimana menggunakan puisi yang ada sebagai pemantik kreatifitas baru.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement