Jumat 11 Sep 2020 15:02 WIB

Album Mini .Feast Singgung Cicilan Sampai Modal Cinta

Album mini .Feast dibuat dalam waktu lebih dari dua bulan.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah
Grup musik .Feast merilis album mini Uang Muka, yang berisi kritik terhadap kapitalisme dan konsumerisme.
Foto: Dok .Feast
Grup musik .Feast merilis album mini Uang Muka, yang berisi kritik terhadap kapitalisme dan konsumerisme.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Grup musik .Feast merilis album mini (EP) terbaru berjudul Uang Muka. Album yang dirilis di bawah naungan label musik Sun Eater itu akan tersedia di berbagai layanan musik digital mulai Jumat, 11 September 2020.

Uang Muka menjadi karya kejutan dari .Feast, yang tengah menggarap album ketiga, Membangun dan Menghancurkan. Sebelum karya itu resmi meluncur, .Feast merasa perlu menghadirkan Uang Muka terlebih dulu.

Baca Juga

Baskara Putra (vokal), Adnan Satyanugraha Putra (gitar), Fadli Fikriawan (bas), Dicky Renanda (gitar), dan Ryo Bodat (drum) menggarap Uang Muka berkolaborasi dengan produser Wisnu Ikhsantama. Pengerjaannya berlangsung sekitar 2,5 bulan.

Album mini diawali dengan "Intro" dan ditutup dengan track "Apa Boleh Buat". Terdapat lima lagu utama berjudul "Dapur Keluarga", "Komodifikasi", "Cicilan 12 Bulan (Iklan)", "Belalang Sembah", dan "Kembali ke Posisi Masing-Masing".

Tema besar album mini Uang Muka adalah uang dan bagaimana tiap orang menyikapi hal tersebut dalam konteks dan situasi berbeda, termasuk di masa pandemi. Setiap lagu menyinggung hal berlainan, mulai dari cicilan hingga modal cinta.

Gitaris .Feast, Dicky Renanda, menyoroti sejumlah kondisi sulit di masa krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19. Dengan keadaan finansial mencekik, ada saja kabar masker atau hand sanitizer yang ditimbun hingga harganya meroket.

"Hal-hal kayak gitu yang coba kami bahas dalam album, dari keresahan masing-masing personel. Seperti lagu "Belalang Sembah" yang gua tulis, kalo lu perhatiin liriknya, menyentil bahwa cinta juga butuh duit," ucapnya.

Pemain bas .Feast, Fadli Fikriawan, menyumbangkan lagu berjudul "Cicilan 12 Bulan (Iklan)". Musisi yang biasa dipanggil Awan itu mengemas sesuatu yang dianggapnya sangat lekat dengan kalangan dewasa muda, yang kerap terjebak cicilan.

Menurut Awan, kondisi saat ini kian memudahkan seseorang untuk berbelanja daring, terlebih di masa pandemi yang membuat akrab dengan ponsel. Setiap membuka media sosial atau platform e-commerce, hasrat berbelanja tidak tertahankan.

"Lu pengen beli meski duit enggak cukup. Cari cara untuk hal itu, bekerja lebih giat, 'jual jiwa' ke kerjaan demi bisa beli produk itu. Manfaatkan cicilan, pusing pengin jajan lagi, jajan lagi," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement