Kamis 20 Aug 2020 03:17 WIB

Studi: Covid-19 Bisa Ubah Sistem Imun Anak

Sidrom langka terkait Covid-19 menyebabkan perubahan sistem imun pada anak

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nur Aini
Petugas medis menyiapkan fasilitas baru untuk pasien anak yang terinfeksi virus corona (COVID-19) di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020). Kapasitas ruangan untuk penanganan pasien corona RS tersebut bertambah dari sebelumnya dilakukan di tiga lantai Gedung Kiara (lantai 1, 2, dan 6) menjadi empat lantai dengan tambahan di lantai 4
Foto: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA
Petugas medis menyiapkan fasilitas baru untuk pasien anak yang terinfeksi virus corona (COVID-19) di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020). Kapasitas ruangan untuk penanganan pasien corona RS tersebut bertambah dari sebelumnya dilakukan di tiga lantai Gedung Kiara (lantai 1, 2, dan 6) menjadi empat lantai dengan tambahan di lantai 4

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sebuah sindrom langka yang berkaitan dengan infeksi SARS-CoV-2 dapat menyebabkan perubahan sistem imun pada anak. Hal itu terungkap dalam sebuah studi terbaru dalam jurnal Nature Medicine.

Sindrom langka itu dikenal sebagai sindrom inflamasi multisistem anak terkait infeksi SARS-CoV-2 atau PIMS-TS. Kondisi itu menyebabkan peningkatan kadar molekul bernama sitokin dan penurunan kadar sel darah putih yang bertugas melawan infeksi bernama limfosit.

Baca Juga

Sitokin pada dasarnya membantu sistem imun untuk menekan infeksi. Akan tetapi, sitokin yang diproduksi secara berlebih dapat menyebabkan inflamasi berat yang kemudian dapat membahayakan pasien.

Hal itu terungkap setelah tim peneliti melakukan analisis sampel darah dari 25 pasien Covid-19 anak dengan PIMS-TS. Tim peneliti juga menganalisis sampel darah dari anak-anak yang sehat sebagai pembanding.

 

Dari analisis itu, tim peneliti menemukan bahwa pasien muda dengan PIMS-TS mengalami peningkatan kadar sitokin dan penurunan kadar limfosit. Akan tetapi, perubahan itu kembali normal secara bertahap seiring dengan proses pemulihan.

"Bantuan mereka (partisipan dengan PIMS-TS) memungkinkan kami untuk memantau perubahan pada sistem imun selama masa sakit dan pemulihan mereka," kata salah satu peneliti Dr Michael Carter dari Evelina London Children's Hospital, seperti dilansir Standard.

Secara umum, PIMS-TS dapat menyebabkan gejala seperti ruam merah pada kulit, demam dan nyeri perut. Kondisi itu juga dapat menyebabkan inflamasi berat di pembuluh darah, yang dapat berujung pada kerusakan jantung.

Laporan awal sempat menilai kondisi ini mirip dengan penyakit Kawasaki. Akan tetapi, tim peneliti mengungkapkan bahwa PIMS-TS berbeda dengan penyakit Kawasaki.

"Meskipun ada kemiripan dengan kondisi seperti penyakit Kawasaki, perubahan klinis dan imunologis yang kami temukan menunjukkan bahwa PIMS-TS merupakan penyakit berbeda yang berkaitan dengan infeksi SARS-CoV-2," kata ketua tim peneliti sekaligus konsultan perawatan intensif di Guy's and St Thomas' NHS Foundation Trust Dr Manu Shankar-Hari.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement