Senin 27 Jul 2020 21:14 WIB

Anak Sehat Alami Sindrom Peradangan Multisistem Covid-19

Sindrom peradangan multisistem muncul satu-dua pekan setelah anak positif Covid-19.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda
Lesi ungu sangat mirip dengan cacar air, campak, atau bengkak akibat kedinginan tampak pada pasien Covid-19. Mayoritas pasien anak yang positif Covid-19 tadinya tak memiliki gangguan kesehatan sebelum mengembangkan sindrom peradangan multisistem.
Foto: Newsflash / Consejo Jenderal De Colegios Ofic
Lesi ungu sangat mirip dengan cacar air, campak, atau bengkak akibat kedinginan tampak pada pasien Covid-19. Mayoritas pasien anak yang positif Covid-19 tadinya tak memiliki gangguan kesehatan sebelum mengembangkan sindrom peradangan multisistem.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Laporan menunjukkan bahwa adanya pasien anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 mengalami respons hiperinflamasi yang langka dan berpotensi fatal beberapa pekan setelah terinfeksi. Kondisi tersebut dikenal sebagai multisystem inflammatory syndrome (MIS-C) alias sindrom peradangan multisistem.

MIS-C umumnya berkaitan dengan penyakit Kawasaki, yaitu sebuah sindrom inflamasi akut dan dapat menyebabkan aneurisma arteri koroner. Akan tetapi, mayoritas pasien Covid-19 anak yang mengalami MIS-C rupanya tak memiliki masalah terkait penyakit Kawasaki.

Baca Juga

Hal ini terungkap dalam sebuah studi yang melibatkan berbagai pusat kesehatan anak di Amerika Serikat pada 15 Maret hingga 20 Mei lalu. Dari 186 pasien MIS-C, sebanyak 70 persen di antaranya positif Covid-19. Sekitar 73 persen dari pasien tersebut juga sebelumnya diketahui memiliki kondisi sehat, tak punya gangguan kesehatan apapun.

Sebagian besar pasien mengalami demam selama empat hari atau lebih begitu terinfeksi virus corona. Studi ini juga menemukan bahwa MIS-C muncul satu atau dua pekan setelah anak terinfeksi SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19.

 

"Pasien terinfeksi dengan SARS-CoV-2 setidaknya satu atau dua pekan sebelum kemunculan MIS-C," jelas tim peneliti seperti dilansir Fox News.

Berdasarkan studi, 60 persen dari pasien yang mengalami MIS-C tak memenuhi kriteria penyakit Kawasaki. Pasien-pasien tersebut juga beberapa tahun lebih tua dibandingkan rata-rata usia pasien Kawasaki.

Sebagian besar pasien mendapatkan terapi imunomodulasi, seperti globulin imun intravena. Sekitar 49 persen pasien dirawat dengan glukokortikoid.

Per 20 Mei, sekitar 70 persen dari pasien telah dipulangkan dari rumah sakit. Sebanyak 28 persen masih drawat di rumah sakit.

Dari temuan ini, tim peneliti mengungkapkan bahwa MIS-C yang berkaitan dengan Covid-19 dapat menjadi penyakit yang serius dan mengancam jiwa. Hal ini berlaku meski anak, baik anak kecil atau remaja, memiliki kondisi yang sehat sebelum jatuh sakit.

Temuan baru ini telah dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine. Per Kamis, kasus Covid-19 di Amerika Serikat tercatat sudah menembus angka empat juta dengan total kematian setidaknya 143.846 kasus menurut data Johns Hopkins University.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement