Kamis 26 Dec 2019 09:03 WIB

Persepsi Wisata Halal Hanya untuk Muslim tidak Benar

Wisata halal adalah bentuk pemenuhan kebutuhan dan fasilitas untuk pengunjung Muslim.

Persepsi Wisata Halal Hanya untuk Muslim tidak Benar. Wisatawan menaiki mobil offroad wisata di kawasan Kali Kuning, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta (ilustrasi).
Foto: Republika/ Wihdan
Persepsi Wisata Halal Hanya untuk Muslim tidak Benar. Wisatawan menaiki mobil offroad wisata di kawasan Kali Kuning, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan persepsi wisata halal hanya untuk wisatawan Muslim tidak benar. "Adanya persepsi tempat wisata halal hanya diperuntukkan untuk pengunjung Muslim saja, tidaklah benar. Konsep wisata halal adalah bentuk pemenuhan kebutuhan dan fasilitas untuk pengunjung Muslim," kata Kepala Dispar Kabupaten Sleman Sudarningsih di Sleman, Kamis (26/12).

Menurut dia, pemenuhan kebutuhan dan fasilitas untuk wisatawan Muslim tersebut, seperti adanya tempat beribadah dan toilet perempuan dan laki-laki yang dibedakan.

Baca Juga

"Kami selalu sampaikan jangan salah paham dengan konsep wisata halal. Ada yang salah persepsi menganggap wisata halal khusus untuk Muslim saja," katanya.

Ia mengatakan, wisata halal untuk mengakomodir kebutuhan untuk masyarakat Muslim seperti tempat ibadah. "Kalau yang lain kan ibadah tidak terlalu sering. Dan untuk desa wisata untuk atraksinya lebih ke tradisional, jangan yang menampakkan aurat," katanya.

Sementara untuk makanan, penerapan yang dilakukan harus dimulai dari produk makanan yang mempunyai izin Pangan Industri Rumah Tangga( PIRT). "Upaya kami dalam mendukung ini salah satunya dengan menggandeng Halal Center Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta," katanya.

Sementara untuk desa wisata, diinisiasi dari KKN UIN Sunan Kalijaga yang salah satu dosen pembimbing lapangannya dari halal center. "Mencoba untuk di sana, kemarin ada enam produk yang sudah tersetifikasi dibantu oleh mereka mahasiswa KKN," katanya.

Sudarningsih mengatakan, untuk sektor hotel dan restoran sudah melakukan sosialisasi wisata halal kepada sejumlah pengusaha tersebut. Dari sosialisasi yang sudah dilakukan, beberapa makanan di restoran sudah mempunyai sertifikasi halal.

"Hotel Cakrakusuma 30 atau 40 makanan sudah dinyatakan sebagai makanan halal. Resto seperti Pizza Hut dan Sushi Tei sudah memasang plakat halal," katanya.

Menurut dia, saat ini baru satu Desa Wisata Pulesari yang menjadi pencontohan wisata halal yang sudah berjalan di Kabupaten Sleman. Konsep wisata halal sudah berjalan di desa tersebut karena adanya dukungan dari masyarakat sekitar.

"Di Desa Wisata Pulesari sudah bisa jalan, karena masyarakatnya sangat menyambut baik konsep tersebut," katanya.

Dispar Slemanterus mendorong wisata halal di wilayah setempat untuk mendongkrak kunjungan wisatawan Muslim baik dalam negeri maupun luar negeri. "Perlu keterlibatan dan dukungan masyarakat dalam penerapan wisata halal di Kabupaten Sleman. Selain keterlibatan masyarakat dalam mendukung konsep tersebut, juga dibutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit," katanya.

Menurut dia, tidak mudah menerapkan konsep wisata halal di Kabupaten Sleman yang banyak tumbuh berbagai destinasi wisata. Perlu adanya kesiapan dan dukungan masyarakat agar program wisata halal tersebut bisa terlaksana.

"Kita tidak bisa memaksa karena itu tergantung masyarakat sendiri, kalau mereka siap dan mau kita akan dukung. Saat ini kami baru sebatas mengimbau karena kita belum bisa sepenuhnya memfasilitasi," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement