Kamis 19 Dec 2019 20:47 WIB

BPOM Evaluasi Obat Diabetes Metformin Tercemar NDMA

BPOM harus mengkaji dulu sebelum menarik obat diabetes metformin tercemar NDMA.

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito mengatakan sedang mengevaluasi obat diabetes metformin setelah penarikan obat itu di Singapura.
Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito mengatakan sedang mengevaluasi obat diabetes metformin setelah penarikan obat itu di Singapura.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengaku saat ini tengah mengevaluasi obat-obatan untuk penyakit diabetes mellitus mengandung metformin yang tercemar N-nitrosodimethylamine (NDMA). Singapura telah memastikan menarik peredaran obat ini. Obat diabetes metformin mengandung NDMA namun masih boleh beredar di Indonesia.

"Sedang ada evaluasi obat diabetes metformin dan ada pertemuan-pertemuan karena belum tentu produk yang beredar di sini adalah produk yang sama. Apalagi kebutuhan obat-obatannya masih tersedia," ujar Kepala BPOM Penny K Lukito di konferensi pers pemaparan kinerja BPOM di 2019 dan outlook 2020, di Jakarta, Kamis (19/12).

Baca Juga

Ia menambahkan, pengamatan masih terus dilakukan sebelum mengambil keputusan. Ia mengaku BPOM juga mengumpulkan data-data pendukung lebih lengkap mengenai hal ini.

"Karena untuk mengambil kebijakan ini harus membutuhkan bukti. Jadi produk obat ini masih bisa dikonsumsi, apalagi ada jaminan dari dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI)," ujarnya.

Sebelumnya Pemerintah Singapura menarik tiga obat diabetes mengandung metformin yang tercemar N-nitrosodimethylamine (NDMA). Paparan NDMA dalam jumlah tertentu bisa mengakibatkan mutasi sel hingga terjadi kanker.

Dikutip dari laman Straits Times, Health Sciences Authority (HSA) sebelumnya menguji 46 obat diabetes yang beredar di pasaran Singapura. Dengan tiga jenis yang ditarik, maka 43 obat lainnya masih bisa digunakan pasien diabetes di negara tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement