Jumat 13 Dec 2019 14:45 WIB

Bayi Laki-Laki Lahir dengan BB Rendah Berisiko Mandul?

Penelitian terkait kemandulan dilakukan ilmuwan asal Denmark.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Bayi laki-laki yang dilahirkan dengan berat badan lebih rendah dari rata-rata, dinilai lebih berisiko mengalami masalah infertilitas atau kemandulan ketika dewasa (Ilustrasi bayi)
Foto: Pixabay
Bayi laki-laki yang dilahirkan dengan berat badan lebih rendah dari rata-rata, dinilai lebih berisiko mengalami masalah infertilitas atau kemandulan ketika dewasa (Ilustrasi bayi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bayi laki-laki yang dilahirkan dengan berat badan lebih rendah dari rata-rata, dinilai lebih berisiko mengalami masalah infertilitas atau kemandulan ketika dewasa. Itu mengacu pada sebuah studi dari kelompok riset Departemen Kesehatan Masyarakat di Aarhus University, Denmark.

Para peneliti di Denmark mengamati 5.594 pria yang lahir antara tahun 1984 dan 1987 dan mengikuti mereka sampai dewasa hingga akhir 2017. Artinya peserta berusia antara 30 dan 33 tahun pada akhir 2017.

Baca Juga

Dari penelitian itu ditemukan bahwa pria yang dilahirkan dengan berat badan lebih rendah dari rata-rata, memiliki risiko ketidaksuburan sebanyak 55 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang lahir dengan berat badan normal.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction menemukan, sebanyak 8,3 persen dari peserta pria yang lahir dengan berat badan kurang dari rata-rata telah didiagnosis atau sedang dirawat karena infertilitas.

Salah satu peneliti Anne Thorsted mengatakan, janin yang tumbuh tidak optimal, bisa memengaruhi produksi sperma dan organ reproduksinya. Menurut dia, bayi yang lahir dengan berat badan rendah juga bisa disebabkan gaya hidup sang ibu saat mengandung yang tidak sehat.

“Dapat juga berspekulasi bahwa kesehatan dan gaya hidup ibu selama kehamilan dapat memengaruhi pertumbuhan janin dan perkembangan fungsi reproduksi. Misalnya, kita sudah tahu bahwa jika ibu merokok, ini dapat berdampak pada janin," kata Thorsted, dilansir melalui Independent, Jumat (13/12).

"Hasil kami menunjukkan bahwa terkadang kita mesti melihat pada masa kehamilan dan kelahiran, untuk menemukan penjelasan terkait masalah kesehatan di kemudian hari," tambah dia.

Diperkirakan bahwa kemandulan mempengaruhi satu dari tujuh pasangan di Inggris, dengan sekitar 30 persen kasus disebabkan oleh infertilitas pria.

Namun para peneliti tetap berharap ada analisis lebih lanjut untuk melihat bagaimana perkembangan peserta 10 tahun ke depan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement