Selasa 05 Nov 2019 22:29 WIB

DKJ Gelar Pertunjukan Seni Perempuan Perupa 2019

Pameran menghadirkan berbagai karya seni dari lima perupa perempuan di Indonesia .

Rep: Ronald Ricardo (cek n ricek)/ Red: Ronald Ricardo (cek n ricek)
Foto: Ronald/Ceknricek.com
Foto: Ronald/Ceknricek.com

CEKNRICEK.COM -- Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) lewat Komite Seni Rupa baru saja menggelar Proyek Seni Perempuan Perupa 2019 bertema ekofeminisme dengan judul 'Siklus Buana'. Acara dihelat di Galeri Cipta II Pusat Kesenian Jakarta pada akhir Oktober lalu.

Saras Dewi, kurator pameran, mengungkapkan tema Ekofeminisme dipilih untuk membahas ekologi dari sudut pandang feminisme. Sementara, mereka memilih judul 'Siklus Buana' yang berarti proses alamiah dalam kehidupan. 

“Ekofeminisme dipilih menjadi tema besar dari proyek ini, karena adanya kesamaan masalah yang dialami oleh perempuan dan alam, akibat dari sistem sosial-ekonomi masyarakat yang masih menganut patriarki,'' kata Saras.

Proyek seni rupa ini menghadirkan berbagai karya seni dari lima perupa perempuan di Indonesia seperti, Citra Sasmita, Dea Widya, Dewi Candraningrum, Prilla Tania dan Tita Salina.

 

Foto: Ronald/Ceknricek.com

Pengunjung diajak untuk menikmati bermacam karya dari perupa perempuan Indonesia yang merefleksikan masalah ekologi yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia belakangan. Karya Prilla Tania, misalnya, memantik angan-angan para penikmat seni dengan gambar orang-orang yang merupakan dambaan keselarasan manusia dengan alam.

Baca Juga: Anies Baswedan Pukul Beduk di Etno Musik Festival 2019

Pengunjung juga diajak meresapi kidung dari syair kuno dalam instalasi seni Citra Sasmita dengan karyanya 'Timur Merah Project II, The Harbour of Restless Spirit'. Dewi Candraningrum, perupa lainnya, memamerkan karya lukisan berjudul seri 'Naga Kendeng' dan 'Lesung Kendeng' yang mengingatkan bagaimana perlawanan masyarakat pegunungan Kendeng melawan kungkungan pabrik semen.

Foto: Ronald/Ceknricek.com

Dua perupa lainnya, Tita Salina dan Dea Widya, menampilkan protes kepada Ibu Pertiwi yang sedang lara akibat kebakaran asap. Sikap kritis terhadap tubuh perempuan yang semakin terhimpit.

Pameran yang dibuka untuk umum dan gratis ini diharapkan mampu membuat pengunjung memahami antara hubungan gender dan masalah lingkungan, khususnya terhadap keberlangsungan alam. 

BACA JUGA: Cek Berita BIOGRAFI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di sini

Editor: PrasetyoAgung

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ceknricek.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ceknricek.com.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement