Ahad 20 Oct 2019 06:06 WIB

Lilo: Musik untuk Republik Dihelat Demi Persatuan

Lilo berharap Musik untuk Republik dapat digelar berkelanjutan di kota-kota lain.

Rep: MGROL Tamimah Ashilah/ Red: Reiny Dwinanda
Edane tampil di pertunjukan Musik untuk Republik yang dihelat di Buperta Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu.
Foto: MGROL Tamimah Ashilah
Edane tampil di pertunjukan Musik untuk Republik yang dihelat di Buperta Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konser Musik untuk Republik, menurut Lilo, berasal dari sebuah gerakan bersama yang ingin mempersatukan kembali rakyat Indonesia yang terbelah akibat kontestasi pemilu. Ia berharap, pertunjukan tersebut bisa berkelanjutan.

"Ini adalah demi persatuan dan perdamaian Indonesia,” kata Lilo di Buperta Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu.

Baca Juga

Lilo mengatakan bahwa pihaknya masih ingin bergerak melalui medium musik. “Kami lebih ke musik, tapi kami juga ingin, misalkan main di Bandung, main di Yogya atau Jawa Tengah, kebudayaannya kita tampilkan juga. Kami kasih kesempatan di panggung," ujar Lilo.

photo
Suasana konser Musik untuk Republik yang dihelat di Buperta Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu siang.

Harapan terkait persatuan Indonesia juga disampaikan oleh para musisi di atas panggung, baik melalui video ataupun secara langsung. Salah satunya adalah Edane, band yang tampil di tiga terakhir dalam hari ini.

"Persembahan untuk  negeri, semoga kita semakin damai, semakin bersatu,” tutur Ervin Nanzabakri, vokalis Edane, yang kemudian dia mengajak penonton untuk bersama menyanyikan lagu "Bagimu Negeri".

Panitia pun memberikan pesan bagi masyarakat Indonesia, khususnya terkait kebersamaan untuk menjaga persatuan NKRI.

"Jagalah NKRI, jagalah merah putih kita, karena kesepakatan kita di situ. Kita jalani dulu saja. Jangan sekarang rusak karena idiom atau karena paham. Kita kembali ke budaya kita. Jangan lupa Tuhan ciptakan Indonesia juga," ujar Lilo.

photo
Edane tampil di pertunjukan Musik untuk Republik yang dihelat di Buperta Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu.

Perhelatan Musik Untuk Republik yang berlangsung selama tiga hari tiga malam pada 18-20 Oktober sempat dikritisi oleh warganet. Pasalnya, Indonesia tengah dirundung sejumlah prahara, seperti jatuhnya korban demonstrasi hingga kerusuhan berdarah di Wamena, Papua, saat pertunjukan musik itu mulai digaungkan.

Panitia pun sempat diterima Presiden Jokowi di Istana Bogor, Senin (30/9). Panitia berharap Jokowi ikut tampil dan unjuk kebolehan dalam memainkan instrumen musik di atas panggung. Sementara itu, hari terakhir penyelenggaraan konser tersebut juga bertepatan dengan pelantikan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden RI, sehingga dinilai sebagai perayaan politik.

"Tidak ada niatan bagi kami untuk mencocokkan tanggal tersebut. Acara itu sudah dirancang sejak jauh hari," tutur drummer PAS band, Sandy Andarusman, ketika dikonfirmasi Republika.co.id, Kamis (3/10).

Sandy menjelaskan, semua pihak termasuk musisi, menginginkan agar kondisi Indonesia yang lebih baik. Oleh karena itu, pihaknya menyelenggarakan acara tersebut.

"Kalau ada yang mengkritik mungkin cara pandangnya saja yang berbeda," kata Sandy.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement