Senin 14 Oct 2019 14:17 WIB

Orang Jahat Tadinya Orang Baik yang Tersakiti, Betulkah?

Gara-gara film Joker, penonton mengira orang jahat tadinya orang baik yang tersakiti.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda
Joaquin Phoenix dalam film Joker.
Foto: Warner Bros via AP
Joaquin Phoenix dalam film Joker.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perjalanan kehidupan sosok Arthur Fleck hingga bertransformasi menjadi Joker dalam film Joker telah membuat sejumlah penonton bersimpati. Setelah menyaksikan film besutan Todd Phillips, mereka meyakini bahwa orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Benarkah anggapan ini?

"Hidup memang tidak ada hitam-putih," ujar spesialis kedokteran jiwa dari Departemen Medik Kesehatan Jiwa RSCM dr Heriani SpKJ(K) membuka pembicaraan, saat ditemui di IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Sebagai ilustrasi, Heriani sedikit menceritakan sosok Arthur. Menurut Heriani, Arthur sejak kecil tidak mendapatkan figur orang tua yang bisa menjadi panutan dan pegangan. Sebagai anak yang adopsi oleh Penny Fleck sejak bayi, dia kerap mendapatkan penyiksaan fisik dari pacar sang ibu.

photo
Film Joker

Ketika dewasa, Arthur yang memiliki gangguan tawa patologis tidak memiliki seorang pun yang bisa menjadi teman untuk mendengarkan keluh-kesahnya. Tiap kali Arthur mengeluh, sang ibu hanya menyuruhnya untuk tetap memasang wajah tersenyum.

"Karena dia itu selalu nggak boleh sedih, selalu tersenyum. Jadinya dia malah ketawa. Setiap dia sedih, makin dia takut, makin dia ketawa. Karena dia ketawa, (orang lain) jadi melihatnya aneh," ujar Heriani.

Kondisi ini semakin diperparah ketika pemerintah memutuskan untuk memangkas subsidi biaya pengobatan pengidap gangguan jiwa. Akibatnya, Arthur tak lagi bisa mengakses obat-obatan untuk masalah kesehatan mentalnya.

Dalam kasus Joker, Heriani mengungkapkan bahwa Arthur sejak kecil tidak memiliki lingkungan yang mendukung proses tumbuh-kembangnya. Pada akhirnya, sosok Arthur dewasa tidak memiliki mental yang kuat dan tidak memiliki mekanisme yang baik untuk menghadapi masalah (coping).

"Dia nggak pernah dilatih untuk mengembangkan mekanisme coping yang sehat, terus malah diajarin tembak aja, tembak (kalau bertemu pengganggu)," kata Heriani.

Oleh karena itu, Heriani tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan bahwa orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Dalam kasus Joker, anggapan yang lebih tepat adalah orang jahat merupakan orang baik yang tersakiti dan tidak tahu cara coping yang benar.

"Dia tersakiti dan tidak tahu bagaimana mengatasi masalahnya dengan baik. Karena dia nggak pernah dilatih untuk itu," jelas Heriani.

Secara umum, Heriani mengungkapkan ada banyak faktor yang bisa membuat seseorang menjadi jahat. Faktor-faktor ini meliputi faktor biologi, psikologi, dan juga sosial atau biopsikososial.

Terkait faktor biologi, misalnya, ada orang yang menjadi jahat karena mengalami kerusakan pada bagian otak bernama lobus frontal. Bagian otak tersebut berfungsi untuk merencanakan sesuatu hingga mengendalikan impuls. Bila mengalami kerusakan pada lobus frontal, orang bisa melakukan kejahatan tanpa menyadari bahwa ia melakukan kejahatan.

"Dia jadi jahat tapi dia tidak tahu kalau dia jahat" tutur Heriani.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement