Senin 23 Sep 2019 00:07 WIB

Karhutla Jangka Panjang Timbulkan Gangguan di Organ

Warga terdampak karhutla harus disediakan ruangan khusus berisi oksigen.

Rep: RR Laeny S/ Red: Indira Rezkisari
Foto udara kawasan Kota Jambi yang diselimuti kabut asap dari karhutla di Jambi, Sabtu (21/9/2019).
Foto: Antara/Wahdi Septiawan
Foto udara kawasan Kota Jambi yang diselimuti kabut asap dari karhutla di Jambi, Sabtu (21/9/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Ari Fahrial Syam menyebutkan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam jangka panjang antara 20 hingga 30 tahun bisa mengakibatkan gangguan pada organ-organ dalam tubuh. Mulai dari lambung, penurunan fungsi ginjal, hingga jantung yang harus bekerja ekstra saat dikepung asap.

Ari mengaku, pihaknya pernah menguji coba seekor tikus yang dibuat dalam kondisi kekurangan oksigen. Hasilnya fungsi organ tubuh hewan ini seperti ginjal, liver, jantung menjadi terganggu.

Baca Juga

Ia menambahkan, kondisi tikus itu bisa menjadi model bahwa saat ini ratusan ribu orang berada dalam kondisi oksigen yang tidak optimal akibat karhutla. Artinya, karhutla bisa menyebabkan gangguan pada tubuhnya.

"Mulai dari dinding lambung karena menyebabkan aliran darah ke dalam lambung terganggu termasuk dinding lambung akan tipis kemudian ada luka-luka pada lambung. Begitu juga fungsi ginjalnya yang menurun dan fungsi jantungnya terganggu ketika kekurangan oksigen di tengah-tengah asap karhutla, ini kemudian memaksa si jantung untuk bekerja lebih kuat," ujarnya di Konferensi Pers UI Peduli Asap, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Selain itu, pria yang juga bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu menambahkan, asap karhutla yang mengandung bahan beracun bisa menjadi karsinogenik kanker seperti paru. Meski tidak selalu otomatis setiap orang yang terdampak asap karhutla akan menderita kanker, ia menyebutkan masyarakat berpotensi menjadi penderita kanker seperti paru jika terus terpapar dalam jangka panjang.

Karena itu, pihaknya meminta supaya pemerintah menyediakan shelter khusus supaya tidak terjadi kasus kekurangan oksigen. "Karena kalau (terus terpapar asap karhutla) dalam jangka panjang maka kondisinya bisa jadi kronis," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement