Ahad 15 Sep 2019 14:57 WIB

Baru 45 Persen Ibu di Kota Bandung Beri ASI Eksklusif

Sebanyak 25,8 persen balita di Bandung mengalami stunting.

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Dwi Murdaningsih
Ibu menyusui
Foto: Republika/Amin Madani
Ibu menyusui

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG —Baru 45 persen ibu di Kota Bandung yang memberikan ASI eksklusif kepada anaknya hingga usia enam bulan. Ketua Umum Forum Bandung Sehat, Siti Muntamah Oded mengatakan di Kota Bandung, 25,8 persen balita mengalami stunting.

Salah satu faktornya karena tidak diberikannya ASI eksklusif pada bayi hingga enam bulan. Umi, sapaan akrabnya, menyebutkan hanya 45 persen ibu di Kota Bandung yang menyusui bayinya secara eksklusif selama 6 bulan. Angka tersebut jauh dari harapannya.

Baca Juga

“Setiap anak harus mendapatkan ASI ibunya kecuali ada faktor-faktor tertentu yang sangat kritis sampai ibu tidak bisa memberikan ASI. Karena hari ini hanya 45 persen ibu di Kota Bandung yang telah memberikan ASI-nya sampai 6 bulan,” kata Umi saat meluncurkan gerakan pemberian ASI eksklusif akhir pekan ini.

Kota Bandung meluncurkan program Bandung Sadayana ASI Eksklusif (SAE). SAE diharapkan mampu mendorong pertumbuhan pemberian ASI kepada anak.

“SAE adalah program untuk memenuhi hak anak,” ujarnya.

Ia menuturkan SAE ini juga menjadi salah satu solusi untuk menurunkan angka stunting dengan pendekatan ASI eksklusif. Dengan begitu diharapkan para balita bisa mendapatkan kecukupan gizinya.

Berdasarkan data dari Global Nutrition Report Tahun 2017 melansir bahwa 36 persen anak Indonesia usia 0-5 tahun mengalami stunting. Angka tersebut membawa Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat stunting tertinggi di dunia, jauh melebihi rata-rata negara di Asia.

Sementara itu, Ketua Tatanan Ketahanan Pangan dan Gizi Forum Bandung Sehat, Sofa Rahmania menuturkan, FBS akan melaksanakan sejumlah gagasan. Pertama, FBS akan memberikan pelatihan kepada 5.000 orang kader untuk menggalang dukungan kepada ibu dalam memberikan ASI.

“Program ASI ini adalah salah satu upaya pemenuhan hak anak. Jadi mari kita memudahkan ibu, baik dari keluarga, maupun lingkungan, dan mengampanyekan fasilitas menyusui di ruang publik. Sampai suatu hari kita targetnya ingin ada Perda tentang ASI dan MPASI (Makanan Pengganti ASI),” tutur Sofa.

Ia mengungkapkan para kader terdiri dari penyuluh Keluarga Berencana (KB), kader Posyandu, serta Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) se-Kota Bandung. Selain itu, program ini juga akan mengadvokasi ruang-ruang publik untuk menyediakan ruang laktasi, baik itu di perkantoran, pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, dan fasilitas umum lainnya.

Hal itu dilakukan untuk memudahkan ibu untuk menyusui di mana dan kapan saja saat diperlukan. Bandung SAE juga akan mengoptimalkan peran konselor laktasi dengan bekerja sama dengan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Para konselor ASI ini bertugas untuk memberikan konseling tentang ASI sehingga para ibu yang memiliki kendala dalam memberikan ASI eksklusif bisa berkonsultasi langsung dengan para ahli.

Terakhir, Bandung SAE juga akan memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk mengampanyekan 10 langkah sukses menyusui. Di dalamnya termasuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan Rawat Gabung. IMD adalah cara untuk memudahkan bayi dalam memulai proses menyusui. Sedangkan Rawat Gabung adalah menempatkan bayi dan ibu dalam satu ruang perawatan pasca melahirkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement