Rabu 04 Sep 2019 18:25 WIB

Tradisi Makan Papeda, Eratkan Ikatan Kekeluargaan dan Persaudaraan

Makan papeda bersama-sama menjadi tanda ikatan kekeluargaan.

Rep: Ronald Ricardo (cek n ricek)/ Red: Ronald Ricardo (cek n ricek)
Sumber: Mongabay
Sumber: Mongabay

Hidangan papeda rencananya akan dihidangkan saat mahasiswa Papua menjamu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani yang batal terencana. Seperti apa sebenarnya tradisi makan papeda itu?

Papeda adalah makanan berupa bubur dari sagu yang dikonsumsi masyarakat di Maluku dan Papua. Papeda biasanya disajikan dengan ikan tongkol atau ''mubara" yang dibumbui dengan kunyit.

Menurut Antropolog sekaligus Ketua Lembaga Riset Papua, Johszua Robert Mansoben seperti dilansir Wikipedia, papeda dikenal lebih luas dalam tradisi masyarakat adat Sentani, Abrab di Danau Sentani, Arso dan Manokwari.

Bubur papeda kerap muncul pada upacara adat Papua, yakni "Watani Kame". Upacara tersebut dilakukan sebagai tanda berakhirnya siklus kematian seseorang. Papeda dibagikan paling banyak kepada relasi yang sangat membantu pada upacara Watani Kame.

Di Inanwatan, papeda bersama daging babi juga menjadi makanan yang wajib disajikan saat upacara kelahiran anak pertama. Di daerah tersebut, papeda juga dimakan oleh wanita-wanita ketika proses pembuatan tato sebagai penahan rasa sakit.

Sedangkan di Pulau Seram, Maluku, Suku Nuaulu menyantap papeda --disebut sonar monne--  dalam ritual perayaan masa pubertas seorang gadis. Selain itu, Suku Nuaulu dan Suku Huaulu juga melarang wanita yang sedang dalam masa haid dari memasak papeda, karena menurut mereka proses merebus sagu menjadi papeda dianggap tabu.

Dalam tradisi masyarakat Kampung Abar di Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura, Papua, satu keluarga akan makan papeda dari satu "sempe" sebagai tanda ikatan kekeluargaan. Tradisi ini menjadi pesta budaya tiap tanggal 30 September.

Pesta budaya ini akan mengambil tema "Helai Mbai Hote Mbai" yang artinya "Helai" adalah sebutan lain untuk "sempe", "mbai" berarti satu, "hote'' berarti wadah ikan.

Saat pesta budaya di tahun 2018, Kepala Suku di Kampung Abar Naftali Felle mengatakan tradisi ini dapat menyatukan 139 kampung dan lima kelurahan di Kampung Abar. “Dulu kalau orang tua putar papeda di sempe, semua anak dipanggil datang tanpa terkecuali. Mereka duduk lingkar. Mereka makan papeda dari satu sempe ini, mereka ambil ikan dan colo kuah di satu hote," kata Naftali.

BACA JUGA: Cek SENI & BUDAYA, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ceknricek.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ceknricek.com.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement