Senin 13 May 2019 11:59 WIB

Monita Tahalea Tampil Bacakan Puisi Tiga Maestro Sastra

Monita mempersembahkan pertunjukan puisi dari tiga sastrawan Tanah Air

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Christiyaningsih
Monita Tahalea dalam pertunjukan Tiga Menguak Takdir.
Foto: Image Dynamics
Monita Tahalea dalam pertunjukan Tiga Menguak Takdir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyanyi Monita Tahalea mempersembahkan pertunjukan bertajuk Tiga Menguak Takdir Dalam Melodi di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, akhir pekan lalu. Pertunjukan ini terinspirasi dari buku kumpulan puisi karya para maestro sastra Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani.

Dalam pendaran cahaya di panggung, penyanyi Monita Tahalea mengajak penikmat seni untuk memaknai dan menghayati karya-karya puisi dari tiga sastrawan Indonesia itu. Pertunjukan selama kurang lebih 60 menit itu dibuka dengan pembacaan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil dan diiringi dengan melodi akustik lagu Perahu.

Baca Juga

Kemudian Monita membacakan puisi karya Rivai Apin berjudul Elegi. Puisi ini menjadi inspirasi menciptakan lagu berjudul Bisu. Selanjutnya Monita membacakan puisi Melalui Siang Menembus malam dan menyanyikan lagu terbarunya berjudul Jauh Nan Teduh.

Setelah itu, beberapa puisi dan lagu dibacakan serta dinyanyikan secara bergiliran. Sajak Buat Adik yang dilanjutkan dengan lagu Sesaat Abadi, Surat dari Ibu dan lagu Hope, Tjerita Buat Dien Tamaela dan lagu Indonesia Pusaka ditampilkan berurutan.

Saat membacakan Sajak Buat Adik, Monita sempat meneteskan air mata di atas panggung dan suasana menjadi haru namun itu tidak berlangsung lama. Tidak lupa, perempuan berusia 31 tahun ini juga menyanyikan lagu andalannya yang berjudul Memulai kembali ke hadapan para penikmat seni.

Sebelum tampil, Monita mengaku melakukan beberapa persiapan. Ia sempat take vocal dengan komposer musik Indra Perkasa.

“Tadi kan Indra Perkasa pakai modular untuk mengisi suasana. Jadi puisi-puisinya sudah aku bacain duluan, direkam. Jadi tinggal Indra Perkasa yang mainin dengan modular itu,” ujar Monita selepas pentas.

Lagu-lagu yang dinyanyikan Monita memang sudah sering dibawakan. Tetapi khusus acara ini, tempo semua lagu diturunkan karena menyesuaikan dengan pembacaan puisi. Monita juga lebih banyak membaca dan memahami puisi-puisi yang akan dibawakan. Ini kali pertama penyanyi jebolan ajang pencarian bakat ini membawakan puisi di depan publik.

“Aku coba bawakan dengan caraku. Aku hubungkan karya-karya (puisi) dengan lirik yang aku buat, karena memang banyak lirik yang aku buat inspirasinya dari apa yang aku baca di Tiga Menguak Takdir,” katanya.

Istri Bayu Risa ini kemudian bercerita mengapa ia sempat meneteskan air mata ketika membacakan Sajak Buat Adik di panggung. Puisi itu, tutur Monita, disambungkan dengan lagu Sesaat Abadi. Sesaat Abadi merupakan lagu yang ditulis untuk mendiang adiknya.

“Waktu tadi latihan santai saja. Pas sudah mulai langsung tiba-tiba ingat gitu. Sekarang lega juga sih sudah bisa cerita ke teman-teman tentang makna lagu itu dan segala macamnya,” ujarnya.

Buku kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani ini pertama kali terbit di Balai Pustaka pada 1950. Buku ini mengajak seseorang menyelami pemikiran perasaan ketiga sastrawan yang datang dari latar belakang berbeda, tetapi menyatu demi mencapai suatu cita-cita yang mereka sebut sebagai ‘suatu tujuan takdir ‘

Dalam pendahuluan buku, Asrul Sani mengatakan pendekatan ini tak berarti menuruti salah satu garis atau garis salah seorang dari mereka bertiga Tapi saling menghargai segi-segi yang dihadapi masing-masing. Garis dasar yang satu, bagi mereka apriori, tak usah dipertengkarkan lagi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement