Senin 25 Feb 2019 07:13 WIB

Kopi Java Preanger: Mahakarya 'A Cup of Java'

Kopi Java Preanger memiliki cita rasa yang kaya.

Perkebunan kopi Java Preanger di Gunung Tilu, Pangalengan, Jawa Barat.
Foto: Kang Aleh
Perkebunan kopi Java Preanger di Gunung Tilu, Pangalengan, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh: Elba Damhuri

Baca Juga

Kopi dari pegunungan di Jawa Barat sedang naik daun. Tak cuma penikmat kopi dalam negeri yang memburu kopi-kopi dari tanah priangan ini, tetapi juga penyuka kopi dari luar negeri.

Salah satu kopi Jawa Barat yang menjadi primadona adalah Java Preanger. Ketika zaman Belanda dulu, kopi Java Preanger ini menjadi salah satu komoditas terkenal di seluruh dunia dari tatar Sunda. Saking terkenalnya, kopi Java Preanger mendapat julukan 'Secangkir Jawa (a cup off coffee) dari para pecintanya di luar negeri.

Apa itu kopi Java Preanger? Nah, Ketua Koperasi Produsen Kopi (KPK) Margamulya, Pangalengan, Mochamad Aleh Setiapermana atau Kang Aleh, menjadi orang yang tepat untuk diajak bicara. Kang Aleh bersama timnya yang menanam dan memproduksi kopi Java Preanger.

Menurut Kang Aleh, kopi Java Preanger Gunung Tilu memiliki cita rasa yang khas sehingga disukai  para penikmat kopi. Karena ditanam di hutan, aroma dan rasa Java Preanger lebih kuat dengan kombinasi rasa asam, rempah, dan buah yang seimbang.

Aroma kopi Java Preanger tidak lepas dari jenis tanaman yang ada di sekitar. Sayur-sayuran menjadi tanaman yang sejak alam ada di Gunung Tilu. Bahkan, sebagian lahan kopi di sana dulunya ditanami sayur-sayuran.

photo
Kang Aleh, pengelola kopi Java Preanger Gunung Tilu, saat mengikuti acara kopi di Singapura.

Cita rasa Kopi Java Preanger memiliki kekentalan lumayan kuat, rasa asam buah lemon yang segar muncul, sedikit pahit, dan ada rasa manis. Rasa setelah diminum pun tidak didominasi satu cita rasa, melainkan cenderung seimbang.

Bersama koperasi yang dipimpinnya, Kang Aleh membina 250-an petani untuk mengelola 200-an hektare kebun kopi di wilayah Gunung Tilu. "Sejak tahun 2001 saya mulai menanam kopi apa adanya secara swadaya, belum berkelompok," kata Kang Aleh.

Dua tahun setelah menanam, masa panen mulai datang. Kang Aleh menjualnya secara gelondongan dengan harga Rp 1.000/kg. Terlalu murah harga kopi itu sehingga tidak memberikan kesejahteraan kepada para petani sehingga diperlukan terobosan untuk mengatasi masalah ini.

Pada 2006, Kang Aleh mendirikan LMDH (lembaga mayarakat desa hutan). Kemudian, pada 2008 untuk terus menaikkan taraf hidup petani dan meningkatkan produksi kopi, Kang Aleh mendirikan kelompok tani yang mengelola kebun kopi di luar kawasan hutan.

photo
Kebun kopi Java Preanger di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat.

Perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun cukup kuat. Pada 2011, kelompok tani ini diberikan hibah pabrik pengolahan kopi senilai Rp 1 miliar. Baru pada 2014 mereka mendirikan koperasi produsen kopi margamulya (KPK Margamulya).

Saat ini produksi kopi Java Preanger mencapai 100 ton per tahun untuk green bean (kopi mentah dalam bentuk kacang).  Sebanyak 70 persen dari produksi kopi ini diekspor ke luar negeri dan sisanya untuk konsumsi dalam negeri dengan merek Java Preanger Gunung Tilu.

Selain mengelola perkebunan kopi, Kang Aleh juga ingin para petani menjadi entrepreneur sehingga taraf hidup lebih bagus. Tak heran jika Kang Aleh selalu diundang ke sana-sini untuk memberikan ceramah-ceramah tentang kewirausahaan dan bagaimana mengelola bisnis kopi.

Berkat kegigihannya ini, kini sulit menemukan orang lokal di sekitar Gunung Tilu yang merantau ke luar negeri menjadi TKI. Atau, praktik-praktik renternir yang menjerat warga pun sudah hilang. Bisnis kopi menjanjikan banyak hal kepada para petani dan warga sekitar.

Proses kopi pascapanen

Kang Aleh mengatakan jenis kopi yang ditanam di Gunung Tilu ada beberapa varietas, yakni ateng coklat,  sigararutang,  LS 795, dan kopi buhun asli Jabar. Kopi ini sebelum diroasting, kata Kang Aleh, mengalami beberapa proses pasca-panen seperti olahan semiwash,  fullwash,  honey, dan natural serta wine (aroma anggur).

photo
Kopi Java Preanger sering diikutsertakan ke berbagai ekspo dan pameran sekaligus sebagai promosi kopi unggulan Jawa Barat ini.

Proses natural (kering) ini dimulai dari ceri (biji kopi yang sudah memerah kulitnya dan layak panen) yang disortasi dan dikumpulkan kemudian dijemur utuh. Proses penjemuran ini bisa dilakukan di atas plastik atau batu selama 5-7 minggu. Setelah itu, kopi tinggal digiling.

Proses full wash maksudnya ceri kopi yang sudah dipanen kemudian direndam di air untuk memilih kopi yang bagus dan tidak. Jika kopi bagus maka dia tidak mengambang. Kemudian kulit kopi dikupas dan direndam selama 12-34 jam, dilanjutkan dengan penjemuran untuk mengurangi kadar air menjadi 10-12 persen.

Nah, proses kopi semiwash ini, menurut Kang Aleh, mirip dengan full wash hanya berbeda pada pelepasan kulit ceri dari kopi. Pada semiwash, pelepasan kulit merah kopi dilakukan dengan mesin, tanpa perlu direndam dengan air.

Kemudian, kopi direndam selama 1-2 jam dan setelah itu dijemur selama 3-4 hari hingga kulit parchment terbuka. Setelah kulit dilepas dengan huller, biji kopi di jemur lagi untuk menurunkan kadar air menjadi 10-12 persen.

Kopi dengan proses honey atau pulped natural diawali dengan membersihkan ceri dan lendir kopi. Pada setiap kopi ada lima lapisan: kulit, lendir, perkamen, kulit berwarna perak, dan biji kopi. Proses honey ini tidak melalui tahap fermentasi.

"Setiap proses kopi dari panen ini akan menghasilkan cita rasa yang berbeda dan khas," kata Kang Aleh.

photo
Sertifikat barista atas nama Kang Aleh, pengelola kopi Java Preanger Gunung Tilu, Pangalengan, Jawa Barat.

Pada proses kering atau natural, rasa kopi lebih bernuansa buah-buahan seperti blueberry, strawberry, maupun rasa buah-buah lainnya. Body kopi sedang dengan tingkat keasaman rendah. Untuk proses basah, rasa kopi lebih asam dibandingkan dengan kering dengan body lebih ringan.

Kang Aleh mengatakan, dengan cita rasa kopi Java Preanger, kopi ini sudah menjelajah dan dikonsumsi di banyak negara. Saat ini Java Preanger sudah diekspor ke Jepang, Korea, Jerman, dan beberapa negara lain.

Prospek bisnis kopi, menurut dia, sangat bagus. Di samping meminimalisasi urbanisasi dari desa ke kota,  jelas Kang Aleh, bisnis kopi sangat luar biasa di mana permintaan dari tahun ke tahun meningkat, 

Apalagi, kedai-kedai kopi sekarang ini bertambah banyak, sampai ke desa-desa. "Jadi, menjual kopi mudah sekali, tinggal kemampuan keuangan dan peralatan diperkuat," kata Kang Aleh.

photo
Kang Aleh saat menunjukkan kebun kopi Java Preanger di Pangelangan, Jawa Barat,

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement