REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semua terasa biasa saja di kehidupan Alex (Louis Ashbourne Serkis). Ia menjalani kesehariannya sebagai seorang pelajar di Dungate Academy dan memiliki sahabat dekat bernama Bedders (Dean Chaumoo).
Bedders diganggu oleh dua orang teman sekelasnya, Kaye (Rhianna Dorris) dan Lance (Tom Taylor). Ketika mencoba menyelamatkan Bedders, Lance memperingatkan anak usia 12 tahun itu untuk tidak bersikap seperti pahlawan. Lance mengklaim dirinya seorang raja di Dungate Academy.
Mulai saat itu, mereka terus bermusuhan. Pada suatu malam Lance dan Kaye sempat melihat Alex dan mengejarnya.
Alex terpaksa bersembunyi masuk ke dalam area konstruksi yang di pagar. Di sana, Alex tergelincir ke bawah dari bangunan konstruksi bertingkat.
Namun, ia malah menemukan sebuah pedang kuno yang tertancap di beton dan berhasil mencabutnya. Alex tidak menyadari ia adalah orang pertama yang menyentuh pedang Excalibur sejak Raja Arthur wafat.
Sejak saat itu, hidup Alex berubah drastis. Ia harus menyelamatkan Inggris dan mengalahkan saudara tiri Raja Arthur, Morgana (Rebecca Ferguson). Morgana berperangai jahat dan ingin memiliki pedang Excalibur.
The Kid Who Would Be King disutradarai dan ditulis oleh Joe Cornish. Film ini diproduseri oleh Nira Park, Tim Bevan dan Eric Fellner, dengan James Biddle dan Rachael Prior berperan sebagai produser eksekutif.
Inspirasi The Kid Who Would Be King tumbuh dalam pikiran Cornish sejak masih kecil, dimulai ketika ia menonton Excalibur karya John Boorman pada 1982 dan ET karya Steven Spielberg di tahun yang sama. Kedua film tersebut memiliki dampak besar pada Cornish untuk sebuah film tentang anak-anak laki-laki biasa yang menemukan pedang berkekuatan ajaib itu.

The Kid Would Be King memang penuh petualangan seru dan lucu bagi penonton anak-anak. Tetapi karakter utama Alex, Bedders, Kaye, dan Lance terasa tidak terlalu kuat.
Karakter penyihir Merlin/Mertin malah terlihat lebih menonjol di film ini. Ada beberapa adegan yang terasa membosankan.
Sisi lain, Cornish sepertinya berusaha keras agar film ini tidak keluar jalur dari tema anak-anak dan dapat ditonton oleh semua umur. Adegan peperangan yang dibuat tidak terlalu menyeramkan serta anggota pasukan yang membantu Alex, Bedders, Kaye, dan Lance juga dipilih dari teman-teman satu sekolah dengan mereka.
Selain itu, meskipun banyak efek visual, tetapi ada pilihan tatanan kostum dalam film yang diharapkan memberikan pengalaman senyata mungkin untuk penonton. Contohnya, baju zirah anak-anak yang didominasi warna merah dan biru seperti abad lampau dan kostum Morgana yang penuh sulaman menyerupai akar tanaman.
The Kid Who Would Be King berada di bawah naungan rumah produksi 20th Century Fox, Working Title Films, dan Big Talk Production. Film yang berdurasi 120 menit dan bergenre komedi-aksi ini akan tayang di bioskop Indonesia pada 23 Januari 2019.