Selasa 15 Jan 2019 17:49 WIB

Cerita Athira Farina Kepincut Profesi Pilot

Athira melayani penerbangan domestik dan luar negeri pesawat jet kapasitas 8 orang

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Salah  satu pilot perempuan termuda, Athira Farina, saat mengunjungi kantor Republika, Selasa (15/1).
Foto: Republika/Retno Wulandhari
Salah satu pilot perempuan termuda, Athira Farina, saat mengunjungi kantor Republika, Selasa (15/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pilot merupakan profesi yang sangat melekat dengan kaum pria. Namun bagi Athira Farina (27 tahun), profesi itu bukan hal yang tidak mungkin dikerjakan oleh perempuan. Athira adalah salah satunya yang membuktikan bahwa perempuan bisa mengendarai pesawat terbang.

Athira mengaku pertama kali kepincut dengan profesi ini ketika waktu masih kecil sering bepergian dengan pesawat. "Penasaran siapa yang bawa tapi dulu enggak tahu namanya itu pilot," ujar Athira saat menyambangi kantor Republika.co.id, Selasa (15/1).

Menurut Athira, motivasi awal menjadi pilot pun cukup sederhana yaitu agar bisa jalan-jalan kemana pun dia suka. Sejak kecil, Athira mengaku memang menyukai perjalanan jauh dan mendatangi tempat-tempat baru. 

Setelah menjadi pilot pun Athira merasa ada kepuasan tersendiri bisa mengantar penumpang ke tempat tujuan. Setidaknya Athira sudah menjalani profesi sebagai pilot selama tiga tahun. Athira melayani penerbangan domestik dan luar negeri dengan pesawat jet berkapasitas delapan orang.

Untuk menjadi seorang pilot, perjalanan yang ditempuh oleh Athira tidaklah mulus. Saat pertama kali mendaftar di sekolah pilot, Athira mengaku sempat gagal melewati tes. Dia pun terpaksa harus mengambil kuliah reguler di salah satu perguruan tinggi swasta.

Namun, satu tahun berselang setelah itu, Athira mendapatkan beasiswa sekolah pilot dari sebuah perusahaan maskapai. Cita-citanya menjadi seorang pilot pun akhirnya terwujud. 

Meski demikian, Athira mengaku, keberhasilannya menjadi pilot perempuan tidak lepas dari masalah diskriminasi dan cemoohan lawan jenis. Apalagi, Athira adalah satu-satunya murid perempuan saat menempuh sekolah pilot.

"Sering juga sih diremehin. Tapi aku balik menjadi motivasi. Kita sama-sama belajar. Ini tantangan untuk membuktikan perempuan juga bisa menjadi pilot," kata Athira.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement