Senin 03 Dec 2018 09:00 WIB

Saat Si Kecil Kedapatan Mencuri

Balita belum memahami batasan milik pribadi dan milik orang lain.

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Ani Nursalikah
 Seorang anak mengamati mainan perahu-perahuan di Jakarta.
Seorang anak mengamati mainan perahu-perahuan di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mencuri adalah perilaku tercela, tidak peduli dilakukan oleh anak-anak atau orang dewasa. Bagaimana jika buah hati kedapatan mengambil barang-barang yang bukan miliknya tanpa izin?

Apakah si kecil mengerti mencuri itu salah? Belum tentu, sebab pada kenyataannya banyak anak mengambil sesuatu di rumah tanpa bertanya.

Mereka belum memahami batasan milik pribadi dan milik orang lain. Ini terjadi pada anak usia tiga hingga lima tahun.

Mengapa anak mencuri? Dilansir di Verywell Family, Senin (3/12), alasan pertama adalah anak mencuri impulsivitas, tanpa mengetahui konsekuensi tindakan mereka. Kedua, mencuri untuk menarik perhatian orang dewasa. Selain itu, anak beberapa kali melihat orang lain mencuri, kemudian menirunya.

Keempat, anak mencuri barang yang mereka sukai. Alasan lain, anak mencuri sebagai cara memberontak.

Kelima, anak mencuri karena tekanan teman bermain atau teman sebaya. Keenam, beberapa anak, terutama yang usianya lebih tua mencuri untuk membeli alkohol atau obat-obatan.

Ada banyak alasan dipertimbangkan untuk memperbaiki perilaku anak. Sebagai contoh, ketika orang tua belum mengenalkan pada anak mencuri itu perbuatan tercela, maka cara menanganinya membutuhkan pendekatan berbeda. Ada juga anak yang sudah mengerti mencuri itu salah, namun tetap melakukannya demi mencari perhatian orang lain.

Anak-anak biasanya mulai paham mencuri itu salah sekitar usia TK hingga kelas satu sekolah dasar. Pada titik ini mereka menyadari ada barang milik pribadi, dan mengambilnya tanpa izin itu tidak bagus.

Ketika anak tertangkap mencuri, orang tua hendaknya langsung mengintervensi untuk memperbaikinya. Orang tua dan guru harus mencontohkan peran positif di rumah dan di sekolah. Bicara pada anak dengan tenang, tegas, dan memilah-milih perilaku baik dan perilaku buruk.

Minta anak berani mengaku perbuatannya yang tak jujur, dan pujilah mereka ketika mau mengakui kesalahan dan meminta maaf. Jika kebiasaan mencuri terus berlanjut, Anda mungkin membutuhkan bantuan profesional.

Konsultan atau psikolog anak bisa memberikan konseling dan mengembangkan strategi intervensi yang tepat untuk anak. Cobalah memahami mengapa anak terus mencuri. Bicara pada mereka untuk memberi wawasan.

Sikap terbuka akan mendorong anak mau berbicara. Tetap tenang, meski tak apa menunjukkan Anda tidak suka dengan perilaku anak. Hindari mempermalukan anak di depan orang lain.

Anda misalnya bisa membuka percakapan dengan kalimat, seperti, "Boleh ibu tahu alasan kamu mencuri uang itu? Uangnya untuk apa?" Percakapan seperti ini bisa membuat anak mulai terbuka dan mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya. Ketika Anda sudah mengetahui alasan anak, Anda bisa membantunya memecahkan masalah tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement