Rabu 31 Oct 2018 16:34 WIB

93 Persen Anak di Dunia Terpapar Udara Beracun Tiap Hari

Polusi udara dapat memengaruhi kemampuan kognitif anak.

Polusi Udara
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Polusi Udara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hampir dua miliar anak atau sekitar 93 persen anak-anak di bawah usia 15 tahun menghirup udara beracun dan busuk yang sangat tercemar. Hal ini menempatkan mereka pada kesehatan dan kesejahteraan yang berisiko serius.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat 600 ribu anak meninggal pada 2016 akibat infeksi pernapasan bawah yang disebabkan udara kotor. "Udara yang tercemar meracuni jutaan anak dan menghancurkan hidup mereka. Ini tidak dapat ditoleransi. Setiap anak berhak mendapatkan udara yang bersih sehingga mereka dapat tumbuh dan melakukan potensi mereka secara utuh," ujar Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebagaimana laporan USA Today, yang dilansir Rabu (31/10).

Polusi udara dapat memengaruhi kemampuan kognitif anak dan juga dapat memicu asma serta kanker. Anak-anak yang terpapar dengan tingkat polusi udara yang tinggi mungkin berisiko lebih besar terkena penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular di kemudian hari.

Masalah ini terparah terjadi di negara-negara dengan penghasilan rendah dan menengah, terutama negara-negara di Afrika, Asia Tenggara, Mediterania timur, dan Pasifik barat. Wali Kota Seoul, Korea Selatan Park Won-soon mengatakan laporan WHO dengan jelas menunjukkan perilaku keseharian orang dewasa mengancam kesehatan anak-anak yang tidak bersalah.

photo
Relawan Greenpeace menunjukan indikator polusi udara saat berada diinstalasi ruangan bebas polusi

"Tidak ada orang dewasa di planet ini dapat terbebas dari rasa sakit yang diderita oleh anak-anak kita karena polusi udara," katanya.

Laporan itu mengatakan secara keseluruhan, sekitar tujuh juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun karena polusi udara. Bahkan, sepertiga dari kematian akibat strok, kanker paru-paru, dan penyakit jantung berasal dari udara yang tercemar.

Untuk mengurangi polusi, WHO menyarankan percepatan pengalihan untuk memasak dan memanaskan bahan bakar dan teknologi, serta meningkatkan penggunaan transportasi yang lebih bersih, perumahan hemat energi, dan perencanaan kota. "Banyaknya penyakit dan kematian yang diungkapkan oleh data baru-baru ini mendesak komunitas global untuk bertindak segera. Untuk jutaan anak yang terpapar polusi udara setiap hari, hanya tersisa sedikit waktu untuk dibuang percuma dan banyak hal yang hal yang dapat didapatkan," kata WHO.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement