Senin 20 Aug 2018 23:53 WIB

Sutradara Filosofi Kopi Siapkan Program Literasi Film

Program itu diberi nama Angga Sasongko EduTour 2018.

Peluncuran Filosofi Kopi di Artotel dihadiri Chico Jericho, Angga Sasongko, dan Rio Dewanto.
Foto: Republika/Gita Amanda
Peluncuran Filosofi Kopi di Artotel dihadiri Chico Jericho, Angga Sasongko, dan Rio Dewanto.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sutradara nasional Angga Dwimas Sasongko menyiapkan sebuah program literasi bagi pelajar sekolah menengah kejuruan untuk berbagi wawasan serta pelatihan tentang dunia perfilman tanah air.

Menurut sutradara film "Filosofi Kopi" itu di Jakarta, Senin, program yang diberi nama "Angga Sasongko EduTour 2018" itu dimaksudkan untuk melahirkan penonton yang lebih "pintar".

Dalam program yang akan digelar di delapan kota di tanah air itu, akan melibatkaan 1.000 guru dengan harapan satu orang guru akan menularkan ilmunya kepada 40 orang murid, sehingga akhirnya menjangkau 40 ribu siswa.

"Ini lebih efektif, guru pintar hasilnya murid pintar. Saya ingin punya akses ke anak-anak SMK," ujar sutradara peraih sejumlah penghargaan itu.

Terkait dipilihnya pelajar SMK, Angga mempunyai alasan, mereka sejak masuk sekolah sudah memiliki pandangan untuk siap memasuki dunia kerja saat telah lulus.

"Selama ini ada 'gap' antara dunia pendidikan dengan dunia kerja, kami ingin berbagi dengan mereka meskipun hanya kecil," ujarnya.

Menurut pemilik rumah produksi Visinema Pictures itu, salah satu persoalan yang dihadapi industri perfilman di tanah air saat ini yakni minimnya jumlah sumber daya manusia yang berkualitas.

Pria berkacamata itu mengungkapkan saat ini jumlah sumber daya yang berkualitas dalam industri film tidak sebanding dengan produksi film nasional yang mencapai ratusan judul per tahun.

"Untuk (menciptakan) industri yang kuat, 'sustain' (berkelanjutan), talenta harus banyak, permintaan terhadap talenta harus lebih banyak dari produski (film). Sekarang terbalik," katanya.

Saat ini, lanjutnya, produksi film mencapai 500 per tahun sedangkan sutradara tidak sampai 40 orang sehingga satu orang akan mengerjakan dua hingga tiga film. Seharusnya jumlah sutradari lebih dari itu sehingga lebih kompetitif.

Dia mengakui, minimnya sumber daya manusia berkualitas yang muncul tersebut karena kurang banyak kesempatan diberikan pada talenta-talenta baru, terutama dari industri film.

"Dari lembaga pendidikan ada tapi untuk talenta ini bisa presentasi kemampuan butuh ruang untuk berkembang. Ini peran industri (film). Industri belum banyak yang memberi ksempatan," katanya.

Oleh kerena itu melalui film "Keluarga Cemara" yang akan diproduksi Visinema Pictures, pihaknya siap menggunakan sutradara baru, penulis baru ataupun talenta-talenta lain yang masih baru guna memberikan kesempatan memunculkan SDM perfilman berkualitas.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement