Selasa 14 Aug 2018 05:53 WIB

Menyusuri Intrik Kehidupan dalam Film Sultan Agung

Konflik terbangun apik di sepanjang cerita membuat film jauh dari membosankan.

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari
Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta
Foto: ist
Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak berusia 10 tahun, Raden Mas Rangsang yang merupakan anak dari Raja Mataram dikirim untuk belajar di padepokan layaknya rakyat biasa. Hanya segelintir orang yang tahu mengenai identitas asli dari Raden Mas Rangsang, salah satunya sang guru yaitu Ki Jejer.

Raden Mas Rangsang tumbuh sebagai remaja yang cerdas dan berani. Ia pun mulai mengenal cinta dan jatuh hati kepada anak perempuan dari Ki Lurah Sudar, Lembayung.

Kehidupan Raden Mas Rangsang yang menyenangkan di padepokan tidak bertahan lama. Kematian Raja Mataram, Panembahan Hanyokrowati, yang tiba-tiba membuat Raden Mas Rangsang harus kembali ke lingkungan kerajaan dan meninggalkan kehidupannya sebagai rakyat biasa di padepokan.

Setelah mengetahui rahasia di balik kematian Sang Raja, Raden Mas Rangsang dihadapkan dengan tanggung jawab berat untuk menjadi raja meskipun ia bukan Putra Mahkota. Tanggung jawab besar ini mengharuskan Raden Mas Rangsang untuk mengorbankan semua hal yang ia cintai, termasuk impiannya dan rasa cintanya untuk Lembayung.

Perjuangan dan Pengorbanan Raden Mas Rangsang sebagai raja dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma tak berhenti di situ. Kehadiran VOC memicu timbulnya serangkaian intrik dan penghkhianatan yang membuat Raden Mas Rangsang harus mengambil pilihan-pilihan sulit demi menyatukan kembali kerajaan-kerajaan kecil di bawah Kerajaan Mataram yang merupakan salah satu bagian penting dari sejarah terbentuknya NKRI.

photo
Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta.

Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta dibuat berdasarkan kisah nyata dari kehidupan Raja Mataram yang memiliki nama asli Sultan Agung Hanyokrokusumo. Film ini tak hanya menawarkan alur cerita yang menarik tetapi juga sarat akan nilai-nilai perjuangan Sultan Agung dalam melindungi rakyat dari jajahan VOC.

"Film ini bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan," ungkap Eksekutif Produser Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta, Mooryati Soedibyo, di Jakarta.

Kemampuan akting dari para pemain peran juga mampu menghipnotis penonton untuk ikut masuk dan merasakan sendiri beragam emosi yang tersaji dalam tiap konflik cerita. Konflik yang terus terbangun sepanjang jalan cerita juga membuat film garapan Hanung Bramantyo ini tidak terasa membosankan meski memiliki durasi yang cukup panjang.

Tak hanya itu, penonton juga akan dimanjakan dengan sinematografi yang menawan. Pengaturan sudut pandang, warna hingga pencahayaan dalam film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta mampu menghadirkan suasana yang lebih intens sekaligus memanjakan mata penonton.

“Film ini menceritakan perjuangan Sultan Agung memerintah Mataram sesuai dengan cita-citanya, dan upayanya mengatasi rintangan-rintangan serta konflik yang timbul dalam kerajaannya," terang Sutradara Hanung Bramantyo.

Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta dibintangi oleh pemain-pemain peran handal seperti Ario Bayu, Adinia Wirasti, Cristine Hakim, Meriam Bellina, Lukman Sardi, Putri Marino hingga Marthino Lio. Film ini akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada 23 Agustus.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement