Jumat 13 Jul 2018 08:23 WIB

Jangan Ragu ke Psikiater Jika Merasa Stres

Pengobatan psikiater membantu pikiran kembali rasional.

Rep: Christiyaningsih/ Red: Indira Rezkisari
Ilustrasi Stres
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Ilustrasi Stres

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang yang pergi menemui psikiater tidak selamanya identik dengan pasien gangguan jiwa. Justru mendatangi psikiater atau psikolog adalah upaya untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa.

Tindakan itu sangat disarankan bagi mereka yang merasa stres akibat menerima banyak tekanan dari lingkungan ataupun karena beban pekerjaan. Menurut psikiater Natalia Widiasih kecemasan, rasa gelisah, atau marah karena masalah sepele lumrah dialami oleh orang yang dilanda stres.

Berdiskusi dengan orang-orang terdekat atau orang  lain yang dianggap sebagai mentor merupakan salah satu solusi meredakan stres. Akan tetapi, ada kalanya rasa stres itu begitu membebani sehingga tak mampu mendapat solusi dari orang-orang terdekat.

Akibatnya, mental pun ikut terganggu. Ujung-ujungnya bisa jadi orang memilih jalan ekstrem seperti bunuh diri karena merasa tak kuat menahan tekanan. Bukan satu dua kali saja kita mendengar kabar orang-orang yang terkenal karena kesuksesan kariernya malah mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Baca juga: Cara Depresi Pengaruhi Fisik Tubuh

"Jika kondisinya sudah demikian, maka sudah saatnya datang ke orang yang lebih ahli seperti psikiater. Bisa juga datang ke orang yang paham agama bila yang bersangkutan membutuhkan saran dari sisi keagamaan," jelas Natalia.

Ketika berkonsultasi dengan psikiater, orang yang sedang stres kadang diberi obat untuk menekan respons. Pengobatan membantu pikiran menjadi lebih rasional.

Namun, orang yang memiliki gangguan mental umumnya enggan untuk berobat. Ini karena kurangnya pemahaman masyarakat dan stigma negatif serta diskriminasi lingkungan terhadap orang dengan gangguan kesehatan mental.

Stigma yang melekat selama ini menilai orang dengan gangguan mental pasti tidak produktif dan tidak bisa bekerja dengan baik. Padahal, pekerja dengan gangguan mental tetap bisa produktif dan bekerja dengan baik asalkan gangguan tersebut diatasi.

"Oleh karena itu dibutuhkan lingkungan yang mendukung orang agar mendapatkan akses bantuan tanpa menerima stigma atau diskriminasi," jelas Natalia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement