Selasa 26 Jun 2018 07:03 WIB

100 Pelompat Batu akan Ramaikan Festival Ya'ahowu Nias 2018

Juga akan ada 1.000 penari yang membawakan tari perang

pemuda menampilkan atraksi
Foto: Antara/Irsan Mulyadi
pemuda menampilkan atraksi "Lompat Batu" di Desa Bawomatuluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumut, Jumat (4/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pesta kebudayaan masyarakat Nias, Suamatra Utara akan kembali digelar tahun ini. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Ya'ahowu Festival 2018 digelar dengan skala yang lebih besar dan lebih meriah.

Hal ini tidak lepas dari dukungan Kementerian Pariwisata yang memasukkan Festival Ya'ahowu 2018 sebagai 1 dari 100 Calender of Event di tahun 2018.

"Festival Ya'ahowu adalah pesta kebudayaan seluruh masyarakat Nias yang terdiri dari empat kabupaten dan satu kota. Tahun ini lokasi penyelenggaraan ada di Nias Selatan," ujar Bupati Nias Selatan Hilarius Duha dalam peluncuran Festival Ya'ahowu 2018, Senin (25/6) di Jakarta.

Nantinya masyarakat dan wisatawan akan disuguhkan dengan berbagai acara-acara menarik. Mulai dari pawai budaya keliling kota yang menampilkan busana daerah dari setiap peserta, atraksi budaya dari masing-masing kabupaten dan kota serta tidak ketinggalan pameran unggulan dan produk kuliner khas.

Selain itu suguhan tari perang dari 1.000 penari serta 100 orang pelompat batu yang akan dicatatkan dalam rekor MURI.

"Penyelenggaraan festival budaya ini sebagai upaya untuk mempromosikan dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Nias," kata Hilarius.

Festival Ya'ahowu 2018 juga akan dirangkai dengan "World Surfing League Nias Pro 2018" yang akan berlangsung lebih dulu pada 24 hingga 28 Agustus 2018 di Pantai Soreake. Sekitar 100 surfer dari 20 negara akan hadir.

"Nias dikenal dengan ombaknya yang berkelas dunia, sehingga menjadi incaran banyak surfer dunia," ujar Hilarius.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan Nias memiliki potensi kuat untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia. Hal ini tidak lepas dari potensi budaya dan keindahan alam Nias yang luar biasa.

Ia mencontohkan tradisi Hombo Batu atau Lompat Batu di Nias. Tradisi ini berakar dari desa-desa di Kepualuan Nias pada zaman dahulu yang banyak melakukan peperangan. Mereka kemudian memasang pagar batu yang tinggi di depan desa sebagai barisan pertahanan.

Karena itulah prajurit-prajurit Nias diharuskan berlatih untuk lompat batu yang tingginya bisa mencapai di atas 2 meter.

"Nanti akan ada 100 orang pelompat batu dan juga tarian perang. Ini makanya Festival Ya'ahowu kemudian masuk ke dalam 100 Calender of Event nasional," ujar Menpar Arief Yahya.

Kekuatan yang dimiliki Nias selanjutnya adalah ombaknya yang menjadi idaman surfer kelas dunia. Kejuaraan surfing kelas dunia yang dirangkai dengan Festival Ya'ahowu kali ini dinilai sangat tepat dalam menarik wisawatan.

"Jadi saya tidak khawatir dengan atraksi yang ada di Nias. Amenitas, Nias bisa mengembangkan homestay yang relatif lebih mudah dibanding hotel," kata Arief Yahya.

Sementara Menteri Hukum dan HAM yang juga tokoh masyarakat Nias mengatakan, Nias harus bisa mencontoh Banyuwangi di Jawa Timur yang bisa memajukan daerahnya dengan pariwisata.

Banyuwangi dikatakannya secara konsisten menyelenggarakan acara-acara dan festival yang dapat menarik wisatawan.

"Nias penyelenggaraan Festival Ya'ahowu semakin baik dan konsisten. Empat kabupaten dan satu kota harus bisa bergandengan tangan, memadukan kekuatan kita sehingga masyarakat dari luar berbondong-bondong datang menjadikan Nias destinasi potensial," ujar Yasonna.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement