Jumat 08 Jun 2018 04:20 WIB

Psikolog: Maaf Memaafkan Jangan Sekadar Formalitas

Jika tidak bisa diikhlaskan, rasa amarah hanya akan berdampak negatif.

Rep: Santi Sopia/ Red: Yudha Manggala P Putra
Saling memaafkan saat lebaran (ilustrasi).
Foto: Republika/Amin madani
Saling memaafkan saat lebaran (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Maaf memaafkan menjadi salah satu tradisi saat Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran di Tanah Air. Namun, masih ada yang menganggapnya sekadar formalitas.

Ada yang memperlihatkan diri seolah sudah saling memaafkan, namun dalam hati tetap saja masih menyimpan amarah atau hanya mengikuti tradisi. Padahal, menurut Psikolog Ayoe Sutomo, perasaan tidak tulus hati itu justru merugikan.

Jika tidak bisa dilepaskan, diikhlaskan, rasa itu lambat laun berpengaruh pada keseharian seseorang. Memendam amarah bisa menjadi energi negatif yang bahkan bisa sampai mengganggu kesehatan.

Karenanya, pemahaman tentang esensi memaafkan menjadi hal penting. Itu justru bisa membantu seseorang untuk mampu memaafkan, merelakan, mengikhlaskan sesuatu yang melukai atau tidak berkenan untuk dirinya akibat perilaku orang lain.

"Kita perlu menyadari bahwa maaf bisa membawa manfaat, semakin kita mampu melepaskan, tidak dendam, tidak marah sebetulnya manfaatnya adalah untuk diri kita," kata Ayoe kepada Republika.co.id, Rabu (6/6).

Ayoe memandang bahwa dengan menerima, mengkihlaskan maupun merelakan sesuatu, hingga memberi ampunan terkait peristiwa yang kurang berkenan untuk seseorang maka akan berdampak positif bagi pribadi seseorang.

"Bagaimana kita memandang hidup, berperilaku dalam keseharian juga tentunya akan jauh lebih baik," ungkapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement