Rabu 25 Apr 2018 12:55 WIB

Wisata Menonton Paus Berpotensi Dikembangkan di NTT

Menonton paus berbasis konservasi akan mendukung program konservasi pemerintah.

Paus Bungkuk
Foto: alamy.com
Paus Bungkuk

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi untuk mengembangkan wisata menonton paus (whale watching) dengan berbasis konservasi.

"NTT bisa mengembangkan wisata menonton paus berbasis konservasi, yang tentunya akan mendukung program konservasi perairan dari pemerintah yakni Taman Nasional Perairan Laut Sawu," kata Pengamat kelautan dan perikanan dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr Chaterina A Paulus MSi kepada Antara di Kupang, Rabu (25/4).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan penemuan muntahan Paus di Kabupaten Lembata dan Kota Kupang beberapa waktu lalu. Potensi Paus di wilayah perairan itu dinilainya bisa bermanfaat secara ekonomis.

"Menurut saya, inilah saatnya kita secara bijak memikirkan masa depan dari 'Setasean' yang berharga ini, baik dari sisi ekologis, ekonomis, dan sosial budaya," katanya.

Setasean adalah sebutan umum bagi mamalia lautan antara lain paus, lumba-lumba dan pesut. Bernapas menggunakan paru-paru dan berproduksi dengan cara melahirkan.

Perhatian ini penting mengingat paus ini adalah ikon dari provinsi berciri kepulauan yang ke depannya bukanlah suatu yang tidak mungkin dengan kondisi perairan tropis hangat yang NTT miliki adalah wilayah migrasi musiman dari Paus, katanya.

Dia juga mengharapkan, Universitas Nusa Cendana dan beberapa perguruan tinggi lainnya, harusnya menjadi center of excellence dari pengelolaan Setasean di wilayah Indonesia.

Hal yang sangat memungkinkan sekali, karena sudah ada komitmen pemerintah dari aspek kelembagaan yaitu dengan adanya Dewan Konservasi Perairan Provinsi (DKPP) NTT.

DKPP NTT ini, sudah termasuk didalamnya Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional dan UPT pusat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, katanya.

Chaterina juga mengajak semua elemen, terutama generasi muda NTT khususnya, agar menjadi garda terdepan dalam menjaga Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati baik setasean maupun biota lainnya untuk kesejahteraan masyarakat saat ini dan masa yang akan datang.

"Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi," kata pengajar pada program studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Undana ini dalam nada tanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement