Kamis 22 Mar 2018 15:18 WIB

Ini Pandangan Nicholas Saputra Soal Film Layanan Streaming

Layanan streaming menyajikan tayangan alternatif dari televisi.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari
Nicholas Saputra
Foto: Republika/Nora Azizah
Nicholas Saputra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nicholas Saputra melihat jika cerita yang baik terkadang tidak cukup diminati untuk digarap pada layar perak. Dengan kondisi tersebut, dia melihat layanan video streaming yang saat ini sedang naik daun bisa menjadi jalan keluarnya.

Saat ini banyak layanan video streaming mencoba membuat serial original sebagai tontonan yang disediakan. Mereka berlomba menghadirkan cerita yang menarik dan biasanya tidak disuguhkan oleh televisi.

"Ini biasanya nggak pernah keluar dan nggak mungkin keluar di televisi," kata aktor Indonesia itu.

Serial yang digarap oleh layanan streaming biasanya mencoba mendobrak cerita yang disuguhkan sinetron-sinetron pada umumnya. Niko pun mencoba ikut terlibat ketika mendapatkan tawaran sebagai dewan juri untuk menyeleksi serial yang akan dibuat HOOQ pada layanannya.

Dalam kompetisi HOOQ Film Makers Guild, Niko bersama Mouly Surya (Indonesia), Erik Matti (Filipina), serta Wasin Pokpong dan Puttipong Promasakha (Thailand) menyaring sekitar 500 naskah yang dikirim dari Indonesia, Filipina, Singapura, Thailand, dan India. Bersama-sama mereka memilih enam naskah terbaik yang nantinya satu naskah akan dibuat serial original HOOQ.

Nico menyoroti satu naskah dari Singapura yang berjudul "How To Be A Good Girl" tentang seorang perempuan yang masuk penjara dan mencoba bangkit untuk kembali kehidupannya semula. Menurut Niko, cerita tersebut tidak akan disentuh oleh orang televisi negara sana karena menampilkan sesuatu yangberbeda. Sehingga bisa diproduksi dengan kesempatan tawaran dari layanan streaming.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement