Kamis 22 Feb 2018 03:30 WIB

Putu Wijaya Dianugerahi Doctor Honoris Causa

Penganugerahan ini karena kontribusi dan karya Putu Wijaya yang luar biasa.

Putu Wijaya
Putu Wijaya

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memberi anugerah gelar Doctor Honoris Causa Bidang Teater kepada I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Penganugerahan ini karena kontribusi dan karyanya yang luar biasa bagi pengembangan ilmu dan seni khususnya teater.

"Penganugerahan Doctor Honoris Causa adalah pengakuan tertinggi di akademik berdasarkan suatu proses pembelajaran yang dilakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh dari proses panjang berkesenian," kata Promotor Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa Prof Dr Yudiaryani di ISI Yogyakarta, Rabu (21/2).

Di hadapan Sidang Senat Terbuka ISI Yogyakarta dalam rangka Penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa Prof Yudiaryani yang juga Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mengatakan, selain karya bidang teater juga penemuannya bagi peningkatan kualitas penerapan nilai-nilai karakter bangsa.Menurut dia, Putu Wijaya merupakan teatrawan, sastrawan dan budayawan yang tidak hanya dikenal karya-karya kreatifnya oleh masyarakat seni dan masyarakat umum di Indonesia, tetapi juga masyarakat di mancanegara.

"Penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa terlaksana dengan proses persiapan cukup panjang, dimulai dari tahun 2016, yaitu pengusulan dari tingkat jurusan/program studi dan seleksi ketat dari tingkat fakultas hingga akhirnya persetujuan di tingkat institut," katanya.

Yudiaryani mengatakan, dari proses itu kemudian menunggu penetapan dari tingkat kementerian, dan dengan pertimbangan syarat akademik maupun dari calon penerima gelar. Oleh karena kadar kualitas kemanusiaan karya-karya Putu Wijaya akhirnya penganugerahan gelar itu terlaksana.

Menurut dia, bagi Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, sosok Putu Wijaya atau yang akrab disebut Mas Putu bukanlah sosok asing. Sebab Putu pernah menjadi tenaga pengajar luar biasa (TPLB) Jurusan Teater dari 2004 hingga 2007.

"Selain itu melakukan kegiatan kolaborasi antara Teater Mandiri dengan mahasiswa Jurusan Teater untuk pentas keliling ZOOM tahun 2007, dan menjadi pemain dalam pementasan lakon 'Kereta Kencana' yang disutradarai Adinda Usin Muka untuk ujian tugas akhirnya," katanya.

Ia mengatakan, partisipasi Putu Wijaya dalam pembelajaran di awal berdirinya Jurusan Teater menginspirasi para dosen teater waktu itu bagaimana meletakkan dasar visi dan misi jurusan teater. Sebab di tahun 1980an kondisi teater di Indonesia berada dalam pertimbangan.

Pertimbangan saat itu, lanjut dia, apakah teater Indonesia tetap melestrasikan 'tradisi' dengan seluruh keberagamannya, atau menyongsong teater Indonesia yang modern dan ataukah teater modern Indonesia yang berbasis pada tradisi.

"Sedangkan Jurusan Teater ISI Yogyakarta berdiri di tengah atmosfir akademik dan kesenimanan yang kental dengan tradisi Jawa, dan terasa sulit ketika mahasiswa dari seluruh Tanah Air belajar tradisi Jawa. Dan saat itu Putu Wijaya memberikan jalan keluarnya," katanya.

Putu Wijaya dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada 11 April 1944, pada masa remaja sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra. Setelah selesai sekolah menengah atas, Putu melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya.

Di Yogyakarta, selain kuliah dan lulus di Fakultas Hukum UGM, Putu juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI) dan meningkatkan kegiatan bersastra, dari kegiatan berkesenian Putu mendapatkan identitasnya sebagai seniman.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement