Selasa 20 Feb 2018 04:11 WIB

Jepang Berencana Membuat Gedung Pencakar Langit dari Kayu

Perusahaan Sumitomo telah mengajukan usulan untuk membangun gedung terbuat dari kayu.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Bayu Hermawan
Gedung pencakar langit (ilustrasi)
Gedung pencakar langit (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Sebuah gedung pencakar langit tertinggi di dunia akan dibangun di Tokyo. Bangunan ini nantinya rencana akan dibuat dari Kayu.

Perusahaan produk kayu Jepang, Sumitomo Forestry Co telah mengajukan usulan untuk membangun menara dengan tinggi 350 meter dan memiliki 70 lantai sebagai bentuk perayaan ulang tahunnya ke 350 pada 2041 mendatang. Pemerintah Jepang sendiri telah lama mempromosikan keuntungan dari bangunan kayu dan pada 2010 mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan setiap bangunan menggunakan bahan kayu termasuk bangunan umum yang memiliki tiga lantai dan di bawahnya.

Sumitomo Forestry mengatakan bahwa gedung baru yang dikenal dengan Proyek W350 ini adalah contoh pembangunan perkotaan yang baik untuk manusia. Yaitu salah satunya dengan membuat arsitektur bertingkat tinggi yang terbuat dari kayu dan ditutup dengan tanaman hijau dan membuat kota seolah sebagai hutan.

Bangunan baru ini sebagian besarnya akan terbuat dari kayu dengan komposisi baja hanya 10 persen. Kerangka dalam, balok, serta kawat terbuat dari hibrida dua bahan dan akan memperhitungkan tingkat aktivitas seismik Jepang yang tinggi. Perusahaan arsitektur yang berbasis di Tokyo Nikken Sekkeri disebut akan memberikan kontribusi untuk desainnya.

Dilansir dari Guardian, struktur interiornya memiliki luas lantai 455.000 meter persegi dan seluruhnya terbuat dari kayu. Nantinya bangunan akan menunjukkan apartemen, kantor, serta pertokoan yang dipenuhi cahaya.

Balkon di keempat sisi luar bangunan akan memudahkan penyebaran tanaman hijau dari tanah ke lantai atas dan berkontribusi pada keanekaragaman hayati perkotaan. Diperkirakan akan dibutuhkan 185.000 meter kubik kayu untuk melengkapi keseluruuhan struktur.

Total biaya konstruksi diperkirakan mencapai Rp 76 triliun, hampir dua kali biaya dari bangunan bertingkat konvensional. Namun dalam sebuah siaran pers perusahaan tersebut mengatakan biaya tersebut kemungkinan bisa diturunkan melihat kemajuan teknologi yang mungkin terjadi selama proses pengerjaan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement