Sabtu 17 Feb 2018 19:03 WIB

Makna di Balik Aneka Ragam Jenang Khas Solo

Jenang harus dilestarikan sebagai warisan budaya.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Indira Rezkisari
Warga Solo menunggu pembagian jenang sumsum gratis dari desainer, hotel dan pihak lainnya yang terlibat dalam menyukseskan pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby A Nasution.
Foto: Republika/Andrian Saputra
Warga Solo menunggu pembagian jenang sumsum gratis dari desainer, hotel dan pihak lainnya yang terlibat dalam menyukseskan pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby A Nasution.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Semarak jenang Sala yang diselenggarakan Pemerintah Kota Solo di Benteng Vastenburg pada Sabtu (17/2) disambut antusias warga. Ribuan warga berburu aneka jenang yang disajikan 273 stan jenang dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), perbankan hingga pasar tradisional.

Namun dari puluhan jenang yang disuguhkan gratis itu, tak banyak warga yang mengetahui tentang makna di balik ragam rasa, warna dan nama jenang. Budayawan Solo, ST Wiyono menjelaskan, jenang telah menjadi kudapan khas sebelum Indonesia merdeka. Bahkan keberadaannya diyakini telah ada sejak masa kerajaan Hindu Buddha. Sebab itu pula, jelas dia, di Tanah Air muncul berbagai ragam jenang yang masing-masingnya memiliki makna  tersendiri.

"Secara historis jenang sudah dari dulu, karena itu harus di uri-uri sebagai warisan budaya. Semarak jenang Sala inilah untuk melestarikannya," kata Wiyono di Semarak Jenang Sala.

Wiyono pun menjelaskan sejumlah jenang yang populer disantap masyarakat. Bukan hanya karena rasanya yang lezat, beberapa jenang juga menjadi suguhan yang wajib ada dalam beberapa acara seperti saat kelahiran anak hingga usai pesta pernikahan.

Jenang Sengkolo misalnya, kombinasi ketan yang dimasak dengan gula merah dan dicampur jenang putih itu sering disuguhkan saat hendak memulai sebuah kegiatan yang berhubungan dengan membangun. Seperti membangun rumah, mengawali pertama kali kerja, hendak menikah dan lainnya. Menurut Wiyono jenang Sengkolo bermakna simbol keberadaan manusia agar tetap mengingat penciptanya.

Ada juga jenang Abang Putih. Jenang yang satu ini merepresentasikan Allah yang menciptakan laki-laki dan perempuan. "Manusia harus luas pandangannya tapi tetap fokus apa yang dituju," katanya.

Sementara jenang Bekatul menurutnya mempunyai makna bahwa manusia tak bisa hidup sendiri. Sedang jenang Poncot dimaksudkan sebagai simbol doa untuk ibu hamil agar bisa melahirkan dengan lancar. Karena itu lazim menemukan tradisi masyarakat Jawa yang memberikan jenang Poncot bagi ibu-ibu hamil.

Sementara jenang Lemu, kata Wiyono mempunyai simbol membangun kehidupan. Jenang Puputan, diperuntukan bagi orang tua yang hendak memberi nama pada anaknya yang baru lahir agar diberikan keberkahan oleh Allah. Sedang jenang Sumsum, mempunyai makna agar keluarga yang mempunyai hajat diberikan kesehatan dan keberkahan. Jenang yang satu ini populer dikonsumsi warga setelah menyelenggaraakan pesta pernikahan.

"Kalau jenang papar simbol itu maknanya waspada harus bisa kendalikan nafsu yang empat. Merah itu amarah, putih mutmainnah, kuning itu lawamah dan hitam itu sufiah," katanya.

Semarak Jenang Sala diselenggarakan untuk memeriahkan hari jadi kota Solo ke-273. Puncak peringatan hari jadi akan berlangsung Ahad (18/2) besok. Warga bisa menyaksikan langsung pentas seni yang menceritakan tentang sejarah berdirinya kota Solo. Pertunjukan yang diperankan sejumlah seniman ternama di Solo ini akan berlangsung di sepanjang jalan Jendral Sudirman.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement