Kamis 27 Apr 2017 00:35 WIB

Markplus Gelar Diskusi Wisata Halal

Chairman Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) Priyadi Abadi,Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Kemenpar Riyanto Sofyan,  dan Asisten Deputi Pengembangan Pasar Segmen Bisnis, Pemerintah, Kementerian Pariwisata Tazbir Abdullah (duduk, dari kiri ke kanan). .
Foto: Dok IITCF
Chairman Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) Priyadi Abadi,Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Kemenpar Riyanto Sofyan, dan Asisten Deputi Pengembangan Pasar Segmen Bisnis, Pemerintah, Kementerian Pariwisata Tazbir Abdullah (duduk, dari kiri ke kanan). .

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- MarkPlus Center for Public Services (Markplus) menggelar diskusi bulanan bertema “Making Competitive Halal Tourism” di Jakarta, Kamis (20/4). Kegiatan tersebut diikuti oleh para pegiat wisata Muslim dan mahasiswa parawisata.

Diskusi tersebut membahas empat hal. Yakni,  memahami pasar (origin) dan kecocokan wisata halal terhadap destinasi di Indonesia, memahami faktor-faktor untuk memonetisasi wisata halal di Indonesia,  memperoleh strategi percepatan terkait monetisasi wisata halal di Indonesia,  dan memperoleh langkah taktis yang bisa dieksekusi untuk percepatan wisata halal di Indonesia.

Diskusi tersebut menampilkan tiga nara sumber. Mereka adalah  Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Kemenpar Riyanto Sofyan, Chairman Indonesian Islamic Travel Communication Forum, (IITCF) Priyadi Abadi, dan Asisten Deputi Pengembangan Pasar Segmen Bisnis, Pemerintah, Kementerian Pariwisata, Tazbir Abdullah.

Riyanto Sofyan yang juga chairman Sofyan Hotels Tbk  mengemukakan potensi wisata halal  sangat besar, lebih besar dibandingkan potensi wisatawan China. Namun Indonesia selama ini belum memaksimalkannya. Mengutip data World Travel Tourism Council (WTTC), kata Riyanto,  Indonesia baru bisa mendatangkan devisa negara dari pariwisata halal  11,9 miliar dolar AS.

 

Chairman IITCF Priyadi Abadi mengemukakan hal senada. Menurut Priyadi yang juga ketua Asosiasi Tour Leader Muslim Indonesia (ATLMI), potensi wisata halal sangat besar, namun  travel Muslim di Indonesia umumnya masih asyik menggarap umrah dan haji. Karena itu, sudah waktunya para pegiat wisata Muslim lebih serius menggarap wisata halal global.

Asisten Deputi Pengembangan Pasar Segmen Bisnis, Pemerintah, Kementerian Pariwisata, Tazbir Abdullah menyoroti pentingnya sertifikat halal. Selama ini, sertifikat halal masih kurang diperhatikan oleh industri wisata di Indonesia. Padahal kalau Indonesia mau membidik wisatawan Muslim global, maka sertifikat halal merupakan sebuah keharusan. Ibarat seseorang yang mahir mengemudikan kendaraan, harus dibuktikan dengan kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement