Jumat 07 Apr 2017 17:16 WIB

Kemenpar Memancing di 'Kolam' Wisman Vietnam

Taman Bawah Laut Pahawang
Foto: Republika/Prayogi
Taman Bawah Laut Pahawang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berpromosi di ajang Vietnam International Travel Mart 2017 mendapat pujian dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Hanoi, Vietnam. KBRI menilai apa yang dilakukan Kemenpar sudah tepat menjaring Wisman di ajang pameran terbesar di Vietnam itu.

“Kondisi perekonomian Vietnam sedang melonjak tinggi. Karena di sini investor banyak yang deal dan berkembang. Tentunya kondisi itu membuat banyak masyarakat Vietnam yang penghasilannya bertambah, atau biasa disebut dengan candaan kita orang kaya baru. Dan orang yang sudah banyak uang, mereka sedang gemar berwisata, di Vietnam ini banyak sekali, sudah tepat Kemenpar ikut acara ini,” ujar Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Hanoi Suryana Sastradiredja saat pembukaan VITM 2017.

Seperti diketahui, Kemenpar mengikuti event pameran VITM 2017 dari tanggal 6 hingga 9 April 2017 di Ha Noi International Center for Exhibition (I.C.E Ha Noi) Vietnam. Dalam acara pembukaan kemarin, Tarian Lenggang Nyai ikut unjuk gigi di depan ribuan pengujung yang hadir di acara tersebut. Tarian tersebut dipersembahkan oleh Vietnam Dance College (VDC) yang juga dibina oleh KBRI.

Kemenpar Unjuk Kekayaan Bahari di Marine Diving Fair Tokyo

“Ada yang mengistilahkan bahwa Singapura adalah kolam yang banyak ikannya, kini Vietnam menurut kami juga sudah seperti itu. Banyak ekspatriat di sini, banyak wisman asing juga di sini, buat paketnya agar mereka terbang juga ke tanah air,” ujar Suryana.

Deputi Pemasaran Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana mengatakan pihaknya memang terus berjuang agar Wisman Vietnam bisa menyambangi Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, di bulan April 2017 selain ikut pameran terbesar di Vietnam, Kementerian yang dipimpin oleh Arief Yahya itu juga melakukan kegiatan Sales Mission di Ho Chi Minh dan Hanoi Vietnam.

Imbasnya, minimnya kursi penerbangan yang membawa Wisman ke tanah air terpecahkan oleh Kemenpar. Salah satu hasilnya adalah maskapai asal Negeri Lumbung Padi, VietJet Air, siap terbang ke Indonesia di pertengahan tahun 2017.

“Ini kabar gembira untuk air connectivity kita, poinnya di situ. Karena fokus kinerja kita di tahun 2017 juga disitu, bagaimana mencari peluang agar maskapai membuka penerbangan langsungnya ke tempat destinasi tanah air. Ini yang sedang kami genjot selain Homestay wisata dan digital, niatan VietJet Air adalah sebuah solusi yang positif,” ujar Pitana.

Tiga poin penting tersebut - Go Digital, Air Connectivity, dan Homestay Desa Wisata menjadi pegangan Kemenpar untuk melangkah di kuartal pertama 2017. Tiga hal itu akan diselaraskan dengan kapasitas destinasi di 3 greaters (Bali, Jakarta, Kepri) serta 10 top branding dan 10 top destinasi sebagai Bali Baru.

Salah satu industri yang ikut pameran bersama Kemenpar juga menyambut kabar positif penerbangan langsung ke tanah VietJet Air. Seta Tours yang mengurusi Wisman ke Jogjakarta, Solo dan Semarang atau biasa disebut Joglosemar itu menilai bahwa penerbangan langsung dari Asia Tenggara ke destinasi di daerahnya akan menambah volume Wisman yang diboyongnya ke Joglosemar.

“Jika banyak penerbangan langsung membuat biaya Wisman itu juga menjadi murah, jadi paket kita bisa bersaing dengan negara lain. Karena persaingan dengan negara Thailand dan Malaysia terus semakin tinggi, jika lebih murah menuju Malaysia dan Thailand, maka kita akan kalah terus," katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, soal Air Connectivity atau akses udara, Kemenpar terus memperbesar daya angkut atau seats capacity, yang di tahun 2017 nanti sudah minus 4 juta kursi. Sedangkan urusan airline, airport dan authority soal angkutan udara itu domain-nya bukan di Kemenpar. Dibutuhkan total collaboration, dengan Kemenhub, Airlines, Airnav, dan Angkasa Pura. Sejak dua bulan silam, problem “jembatan udara” buat Indonesia yang berkepulauan ini sudah terdeteksi.

Karena itu Menpar Arief Yahya bersama tim Kemenpar melakukan roadshow ke industri Airlines, Angkasa Pura I-II dan Authority, dalam hal ini Kemenhub. Gaya swasta, tidak terlalu protokoler, langsung bicara seolah-olah seperti B to B, mencari solusi terbaik.

“Karena 75 persen wisatawan itu masuk ke tanah air dengan airlines. Lalu 24 persen dengan penyeberangan, dan 1 persen di perbatasan. Sentuh yang terbesar dulu, untuk quick win, termasuk dengan rencana VietJet Air ke tanah air dari Vietnam juga merupakan kabar yang menggembirakan,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement