Ahad 20 Nov 2016 09:28 WIB

Tampil Memukau, Tulus Hibur Peserta Medical Charity Night

Rep: Rizma Riyandi/ Red: Damanhuri Zuhri
Tulus.
Foto: YouTube
Tulus.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Penyanyi solo pria, Tulus kembali tampil memukau dalam aksi panggungnya. Namun kali ini ia tidak bernyanyi di atas pentas konser biasa. Melainkan di hadapan para peserta Medical Charity Night di The Kasultanan Ballroom, Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu (19/11) malam.

Pria yang melejit karena lagu Sepatu itu mengaku senang dapat ikut berkontribusi dalam acara amal bakti kesehatan yang digelar Fakultas Kedokteran (FK) UGM itu. "Saya senang bisa tampil di sini," katanya. Sembari menyapa penonton, ia pun mengingatkan masyarakat untuk menerapkan hidup sehat.

Medical Charity Night sendiri digelar sebagai malam amal untuk mengkampanyekan hidup sehat. Pasalnya kasus kematian akibat penyakit tidak menular semakin meningkat setiap tahunnya. Adapun faktor terbesar kasus penyakit tak menular adalah pola hidup yang bermasalah.

Gaya hidup buruk meliputi kurang aktivitas fisik, makan makanan dengan gizi yang tidak seimbang, stres yang berlangsung terus-menerus, dan merokok. Faktanya, perubahan gaya hidup ini terjadi sejak seseorang masih berusia muda. Semakin muda usia seseorang saat terpapar dengan perubahan gaya hidup tersebut, maka mereka semakin rentan terkena penyakit tidak menular.

Ketua Panitia Medical Charity Night, Tri Yunita Devianti Ammylia mengatakan, donasi yang dihasilkan melalui kegiatan ini seluruhnya akan digunakan untuk kegiatan pencegahan penyakit tidak menular di Yogyakarta. Ke depannya para donator dapat memantau pelaksanaan kegiatan pencegahan tersebut melalui website khusus yang telah disiapkan.

"Kedepannya, acara ini diharapkan dapat menjadi acara rutin tahunan yang diselenggarakan FK UGM," tutur Tri. Terutama dalam rangka mengembangkan creative funding sebagai upaya meningkatkan taraf kesehatan masyarakat di Yogyakarta.

Berdasarkan Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2012, penyakit jantung iskemik dan stroke menjadi dua penyebab kematian terbesar di dunia. Bahkan jantung iskemik menyebabkan 7,4 juta kematian. Sementara penyakit stroke telah merenggut nyawa 6,7 juta orang dalam satu tahun.

Sementara pada 2014 di Indonesia, penyakit stroke, jantung iskemik, dan diabetes mellitus dengan komplikasi menjadi tiga penyakit dengan angka kematian terbesar. Melihat data tersebut, Tri mengemukakan, bukan hal yang tidak mungkin jika angka kematian akibat penyakit tidak menular akan terus meningkat.

Namun begitu Tri menuturkan, penyakit-penyakit tersebut termasuk dalam daftar penyakit yang masih bisa dicegah kejadiannya. "Maka itu diperlukan upaya untuk menyadarkan masyarakat mengenai hal tersebut. Salah satunya melalui kegiatan amal seperti ini," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement