Senin 03 Oct 2016 11:33 WIB

Mengenal Desa St Lawrence yang Hilang

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Indira Rezkisari
Foto dari udara memperlihatkan jejak-jejak Desa St Lawrence yang tenggelam. Tampak bekas jalan dan rumah.
Foto: Amusing Planet
Foto dari udara memperlihatkan jejak-jejak Desa St Lawrence yang tenggelam. Tampak bekas jalan dan rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, Sekitar tahun 1954, Amerika Serikat dan Kanada bekerjasama dalam proyek  besar penciptaan saluran navigasi sepanjang 600 kilometer. Penciptaan ini diharapkan memungkinkan perjalanan kargo laut  dari Samudra Atlantik untuk mendapatkan akses ke pelabuhan pedalaman di sepanjang Great Lakes dari Amerika Utara. Selain itu, proyek pembangunan ini juga bertujuan agar dapat memberikan banyak tenaga listrik hidro yang dibutuhkan untuk wilayah tersebut.

Seperti dilansir laman Amusing Planet,  Senin (3/10),  setelah empat tahun konstruksi, Saint Lawrence Seaway (sebelumnya bernama Sungai Saint Lawrence)  yang mengalir dari Danau Ontario ke Samudera Atlantik  selesai. Kemudian pada 1 Juli 1958, cofferdam yang telah menahan air selama konstruksi akhirnya dihancurkan.

Tindakan tersebut pun berdampak pada sekelompok  masyarakat kecil di sekitaran sungai, yakni di salah satu provinsi Kanada, Ontario, dekat Cornwall.  Wilayah itu harus menghilang di bawah gelombang Sungai St. Lawrence. Wilayah ini terdiri dari sembilan desa, seperti Aultsville, Dickinson Landing, Farran’s Point, Maple Grove dam Mille Roches. Kemudian Moulinette, Santa Cruz, Wales dan Woodlands yang sekarang lebih dikenal "Desa yang Hilang".

Desa-desa tersebut berdiri sekitar akhir abad 18 oleh para loyalis (kolonis Amerika yang setia kepada Inggris selama masa Perang Kemerdekaan Amerika). Setelah mengalami kekalahan, ribuan dari mereka melarikan diri ke salah satu bagian dari kerjaan Inggris yang sekarang lebih dikenal sebagai Kanada. Pada saat pembangunan seaway, desa-desa hilang tersebut dihuni para keturunan loyalis tersebut.

Akibat banjir dari sungai St. Lawrence, 8.000 hektare lahan pertanian dan kebun hancur. Sebanyak 6.500 orang harus dipindahkan ke wilayah lain. Warga dipindahkan ke dua komunitas Long Sault dan Ingleside.

Dari peristiwa tersebut,  lima ratus bangunan harus mengalami kerusakan. Tak terhitung juga jumlah rumah, sekolah dan rumah bisnis yang harus hancur. Jalur kereta api dan jalan raya juga harus berada di zona banjir. Sampai saat ini, banyak dari jalan-jalan tersebut yang masih tetap terlihat di bawah air.

Sebagai bagian dari sejarah yang penting, Lost Villages Historical Society  dibentuk pada 1977 untuk mendidik masyarakat tentang hilangnya masyarakat yang sebelumnya berada di sepanjang Sungai St Lawrence. Terdapat pula sebuah museum di  Taman Ault di dekat Long Sault yang dikhususkan untuk mngenal desa hilang. Melalui tempat ini, Anda dapat melihat beberapa artefak yang berhasil diselamatkan masyarakat.

 

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement