REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Di antara barang peninggalan Indonesia, terdapat lukisan karya seniman Indonesia yang juga memiliki nilai seni dan ekonomi tinggi. Seiring bertambahnya usia, lukisan-lukisan tersebut tentu mengalami kerentanan yang harus mendapatkan perawatan sebaik mungkin. Namun sayangnya, saat ini Indonesia masih kekurangan konservator lukisan yang profesional.
“Konservator lukisan kita masih sedikit dan tidak banyak diminati,” ujar Kepala Museum Basuki Abdullah, Joko Madsono di Jakarta, Senin (26/9). Menurut Joko, memang tidak semua pengurus museum tahu cara merawat lukisan. Sebab, tugas sebagai konservator lukisan ini memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Seperti halnya saat mengonservasi lukisan Basuki Abdullah, Joko menjelaskan, konservator tentu harus tahu teknik lukisan dan segalanya dari lukisan seniman tersebut. Jika tidak tahu, hal ini tentu akan menimbulkan masalah. Untuk itu, diperlukan pemahaman dan pengetahuan mengenai hal ini.
Di sisi lain, Joko mengungkapkan, saat ini belum ada lembaga formal yang secara khusus mengajarkan ilmu konservasi terutama lukisan. Kebanyakan konservator selama ini hanya lulusan SMA yang mendapatkan pengajaran secara otodidak. Dalam hal ini termasuk pengalaman mereka dalam mengurus lukisan.
Program studi seni rupa sendiri juga lebih sering menghasilkan seniman (pelukis) dibandingkan konservator. Lulusan tersebut tahu menjadi konservator lukisan itu tidak mudah. “Karena itu mereka lebih suka terjun ke pelukis,” kata dia.
Dari alasan tersebut, Joko menegaskan, konservator pun kurang diminati. Padahal profesi ini cukup menjanjikan mengingat kebutuhannya yang besar di Indonesia. Indonesia sendiri, dia melanjutkan, minimal membutuhkan 408 konservator profesional untuk menangani 408 museum. “Bahkan seharusnya lebih banyak,” tambahnya.