REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pada 2014, arsitektur di banyak negara hampir sama, semua didominasi dengan aluminium, kaca, dan warna abu-abu.
Padahal, ujar Ketua Kehormatan Ikatan Arsitek Indonesia Endy Subijono, pada era 90an bangunan di berbagai kota di belahan dunia masih memiliki ciri khasnya masing-masing.
"Ini membuat karakter bangunan menjadi hilang. Padahal karakter itu tanda eksistensi budaya masing-masing di dunia," kata Endy dalam seminar Kota Pusaka di Jakarta, Jumat (29/5).
Masing-masing negara, ujar dia, punya budayanya sendiri-sendiri. Seharusnya masing-masing mempertahankan ciri bangunan lokalnya, bukan sama semua didominasi dengan alumunium dan kaca.
Makanya, terang Endy, sudah saatnya Indonesia mulai memperhatikan berbagai bangunan tua bersejarah. Sebab itu merupakan aset dan warisan sejarah yang berharga dan patut dilestarikan.
“Bangunan tua dan bersejarah yang ada harus dijadikan monumen hidup yang bisa dimanfaatkan generasi sekarang dan yang akan datang,” ujar Endy.