Kamis 07 May 2015 09:46 WIB

‘Omnibus’ Langkah Majukan Perfilman Indonesia

Rep: mj04/ Red: Agus Yulianto
Poster film pendek karya sineas Indonesia, A Lady Caddy Who Never Saw a Hole in One, meraih penghargaan di Osaka, Jepang.
Poster film pendek karya sineas Indonesia, A Lady Caddy Who Never Saw a Hole in One, meraih penghargaan di Osaka, Jepang.

REPUBLIKA.CO.ID, Ekspektasi seseorang ketika menonton film di bioskop, biasanya adalah duduk selama sekitar 1,5 jam untuk melihat satu cerita. Namun kali ini berbeda. Pasalnya, yang hadir  adalah film dengan cerita, dan sutradara yang berbeda pula. Bila dalam dunia sastra dikenal kumpulan cerpen, maka di dunia film dikenal istilah film ‘omnibus’.

Omnibus adalah sebuah film yang memiliki beberapa film pendek (segmen) di dalamnya. Namun, tentunya dengan jalinan cerita yang berbeda, sutradara dan pemain yang berdeda. Hanya saja, masih memiliki satu benang merah, misalnya kesamaan genre.

Untuk itu, tahapan awal Festival Film Bandung (FFB) XXVII tahun ini, mulai digulirkan para penggerak dan tokoh perfilman Jabar dengan menggelar sejumlah diskusi dan seminar. Kegiatan ini melibatkan kalangan kampus, komunitas, dan masyarakat.

Salah satu yang menjadi fokus memajukan film Indonesia yaitu dengan mengangkat film-film pendek yang disatupadukan menjadi sebuah omnibus. “Kita akan mulai angkat omnibus. Maka, mulai saat ini, berkarya melalui film-film pendek,” ujar Chand Parwez, pemilik rumah produksi Kharisma Starvision Plus yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi film di Museum Sri Baduga, Kota Bandung, Rabu (6/5).

 

Kini, dengan semakin membanjirnya film produksi lokal, maka bertambah pula film omnibus yang dibuat. Beberapa di antaranya yang cukup dikenal dan mendapat apresiasi di masyarakat seperti, Perempuan Punya Cerita, Rectoverso, 3 Sum, dan Takut (Faces of Fear). Sementara, beberapa film omnibus yang dirilis tahun lalu di antaranya adalah Sanubari Jakarta, Kita vs Korupsi, Dilema, Hi5teria, dan Sinema Purnama.

Film omnibus merupakan peluang besar bagi film-film pendek untuk bisa sampai kepada para penikmat film di Tanah Air melalui kemasan khas. Film-film ini menjadi rangkaian tontonan yang akan menjadi trend sinema ke depan.

Karena itu, menjadi komitmen FFB untuk terus mendorong kualitas film di Tanah Air. Termasuk juga mendorong munculnya inovasi dan kreasi dalam memproduksi film.

“Dari sisi teknologi tidak ada alasan untuk sulit membuat film. FFB akan menampung kreatifitas dan inovasi sinema dari berbagai kalangan. Serta memberikan ruang bagi kreativitas yang memajukan sinema Indonesia, “ ujar Ketua Umum Forum Film Bandung, Eddy D Iskandar.

Takut dan dilema

Melihat tren omnibus, kata Eddy, maka hal itu dilatarbelakangi oleh budget produksi yang lebih murah dari membuat film panjang. Namun, dengan keterbatasan itulah, para pembuat film omnibus menjadi tertantang untuk membuat sebuah kreativitas yang bernilai tinggi dan tidak kalah dengan kualitas yang dimiliki film panjang. Apalagi, kata dia, banyak hal yang bisa menjadi keunggulan dari sebuah film, baik film omnibus maupun film panjang.

 

Namun, kata sutradara film ‘Firasatku’ Acha Septriasa, originalitas film berasal dari diri sendiri. Karena, setiap orang bisa mengkreasikan idenya dengan caranya masing-masing dan dituangkan melalui sebuah cerita yang ditulis lewat scenario dan selanjutnya dimainkan dalam peran yang arahkan oleh sang sutradara.

Karena itu, kata dia, sutradara harus mempunyai insting yang bagus untuk menuangkan isi dari skenario menjadi bentuk peran yang baik di layar kamera. “Omnibus adalah formula yang PAS dalam penceritaan, porsi akting dan setting dalam durasi singkat,” ujar dia yang juga menjadi salah satu pembicara dalam acaara diskusi film ini.

Di kondisi saat ini, tutur Acha, sineas indie sangat mampu bersaing dalam industri perfilman Indonesia jika saja memiliki keberanian untuk menunjukkan karyanya kemudian mengikuti sebuah festival sehingga karyanya akan dikenal. Selain itu, kata dia, dalam industri film itu,  harus tahu siapa penontonnya, serta tahu cara  mengedukasi penonton.

“Produser harus faham sosiologi, dengan begitu produser akan tahu apa yang sedang terjadi di masyarakat dan apa yang sedang masyarakat inginkan dari perfilman Indonesia,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement