Kamis 06 Nov 2014 16:07 WIB

Film 'Gunung Emas Almayer', Kolaborasi Indonesia-Malaysia

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
film Gunung Emas Almayer
Foto: rilis Media Desa Indonesia
film Gunung Emas Almayer

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jika Apocalypse now digarap oleh maestro Hollywood Francis Ford Capolla, kini giliran sineas papan atas Indonesia dan Malaysia yang mempertunjukan kebolehan di film Gunung Emas Almayer.  Cerita novel "Almayer's Folly" diangkat kelayar lebar sebagai sebuah kolaborasi antara Media Desa Indonesia dan rumah produksi Tanah Licin dengan eksekutif produser U-Wei Bin Haji Saari.

Media Desa Indonesia sendiri dikenal dengan film kolosal Trilogi Merah Putih. Film kolosal ini akan tayang perdana pada hari ini di 150 bioskop Indonesia. Dan distribusi internasional ke 50 Negara akan dimulai pada tahun 2015.

 

Pemain Internasional termasuk aktor ternama asal Australia, Peter O'Brien, si jelita Diana Danielle dari Malaysia, Rahayu Saraswati dari Indonesia, El Manik dan Alex Komang dari Indonesia, Adi Putra dari Singapura. Sementara sang sutradara berasal dari Malaysia berdarah Padang, U-Wei Bin Haji Saari.

 

Co-Produser film ini, Rahayu Saraswati berharap masyarakat Indonesia bisa menikmati cerita yang disuguhkan dengan setting budaya dan kehidupan masyarakat melayu pada abad 19. Sara yang juga ikut berperan sebagai Taminah di film ini menjelaskan pembuatan film ini cukup berat.

Untuk menjadikan film tersebut mirip seperti dengan cerita dalam novelnya, maka sang sutradara U-Wei melibatkan kurang lebih 1000 kru. "1.000 orang itu gabungan dari aktris dan pemain film serta tim kreatif yang berasal dari berbagai negara. Bayangkan, bagaimana hasilnya jika begitu banyaknya orang untuk membuat film ini menjadi lebih hidup," tutur Sara.

 

Disisi lain, artis cantik Malaysia Diana Danielle yang berperan sebagai Nina dalam film tersebut menambahkan, jika masyarakat Indonesia menonton film “Gunung Emas Almayer” secara berkali-kali maka akan menemukan sisi cerita yang berbeda. Sebab, secara halus film ini menggeser sudut pandang penonton terhadap sosok karakter utama.

 

Selain di Indonesia, film ini juga diputar di Malaysia dan Amerika Serikat. Meski begitu, Direktur Media Desa Indonesia, Sam Siregar mengatakan judulnya berbeda di masing-masing negara"Kalau di Indonesia judul filmnya “Gunung Emas Almayer”, di Malaysia judul filmnya “Hanyut”, sedangkan di Amerika itu “Gold Mountain," ungkap dia.

Film “Gunung Emas Almayer” di sadur dari novel klasik karya Joseph Conrad yang terbit 1895. Dimana film berdurasi 116 menit mengambil setting Malaka awal abad 19. Film ini menceritakan perjuangan Kaspar Almayer, seorang pedagang senjata berkebangsaan Belanda yang sekaligus mempunyai minat arkeologi, dalam mengejar impiannya menemukan gunung emas di Malaka.

Impian Almayer untuk menemukan gunung emas, tak terlalu mudah. Karena ia harus berhadapan dengan banyak konflik kepentingan, baik kaum penjajah, pemimpin pribumi, pejuang kemerdekaan bahkan dengan keluarganya sendiri

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement