Senin 13 Oct 2014 06:15 WIB
Keuangan

Strategi Kaya Tanpa Gajian

Hobi bisa diubah jadi bisnis, selama mau merumuskan rencana dan strategi bisnisnya.
Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Hobi bisa diubah jadi bisnis, selama mau merumuskan rencana dan strategi bisnisnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Salam kenal Uda Hari ‘Soul’ Putra. Saya seorang karyawan level manajer di sebuah BUMN terkenal di Padang. Beberapa hari terakhir, saya galau terhadap kondisi masa depan saya.  Jika dibilang sukses, saya sudah termasuk sukses untuk ukuran teman-teman seangkatan saya.

Di usia saya yang relatif muda (34 tahun), saya seperti kehilangan gairah dan kreativitas dan pelarian saya akhirnya ke bisnis.  Bisnis yang saya tekuni tidak jauh dari latar belakang saya, IT. 

Jadi sembari bekerja Senin-Jumat, saya juga menjadi konsultan di tempat lain yang saya kerjakan ketika selesai kerja dan hari Sabtu-Ahad. 

Apa yang harus saya lakukan terhadap karier, keuangan, dan embrio bisnis saya? Sepertinya berhenti kerja menjadi tujuan saya dalam beberapa waktu terakhir dan saya ingin jadi kaya tanpa gajian.

Mohon pencerahannya

Andre

Padang

Jawaban WF 19

Salam kenal juga Uda Andre.

Masalah yang Anda alami dulu, pernah saya alami juga ketika masih bekerja.  Ada idealisme yang kita perjuangkan, sementara di sisi lain kita seperti terbentur ‘tembok birokrasi’ yang itu sepertinya menyumbat arus liar ide-ide kreativitas kita.

Dan memang pada dasarnya, ketika Anda sampai pada posisi puncak pun, katakanlah Presiden Direktur atau CEO, Anda akan tetap membentur ‘tembok birokrasi’ bernama Komisaris dan Pemegang Saham. Belum lagi Anda bekerja disebuah BUMN yang notabene milik pemerintah, ada ‘jatah partai’ yang harus juga diakomodasi kepentingannya.

Melihat kondisi di atas, sepertinya berhenti kerja menjadi pilihan terbaik.

Sebelum nasi menjadi bubur, memang ada baiknya Anda pikirkan kembali ide di atas, karena gagal berencana, berarti merencanakan kegagalan.

Terkait pertanyaan Anda, “Apa yang harus saya lakukan terhadap karier, keuangan dan embrio bisnis  saya.” 

Mari kita bahas satu persatu.

Untuk karier, ada baiknya tetap Anda pertahankan, karena tidak semua orang bisa seperti Anda.  Dan karier ini menjadi semakin baik ketika sesuai dengan talent dan passion Anda selama ini.

Artinya jika IT adalah the end of your dream, maka pertahankanlah karena di sanalah Anda bukan lagi sekedar bekerja dan menerima gaji, tetapi Anda lagi ‘bermain’ dan ‘beribadah’.  Karena tidak akan pernah ada rasa capai dan lelah ketika itu menjadi mimpi Anda selama ini.

Sedangkan terhadap keuangan, saya sarankan untuk tetap dengan gaya hidup yang produktif, artinya ketika Anda mengalami peningkatan karier dan gaji, yang harus Anda tanamkan dalam pikiran Anda adalah Saving dan Investing, baru Konsumsi. 

Karena sangat banyak sekali, karyawan yang tiap tahun naik gaji dan jabatan, tetapi keuangannya selalu tekor.  Bisa karena menyesuaikan gaya hidup dengan jabatannya atau faktor lingkungan yang ‘memaksa’ orang tersebut jadi berubah.

Jika ‘pemaksaan’ tersebut ke arah yang produktif dan konstruktif, kenapa tidak!

Yang jadi bahaya ketika di bawa ke arah hedonis dan konsumtif.  Misalnya kongkow-kongkow di cafe hingga larut malam tanpa ada kejelasan apa yang dikerjakan dan bermanfaat untuk diri mereka buat masa depan. Jadi, hidup dengan batas gaji Anda dengan menyisihkan terlebih dahulu porsi tabungan dan Investasi di depan.

Untuk bisnis baru Anda (start up), secara umum ada dua model :

1.    Business to Business (B2B)

B2B adalah istilah lain dari bisnis korporasi, karena kliennya adalah perusahaan atau korporasi.  Bisnis korporasi umumnya dicirikan oleh nilai transaksi yang besar, jumlah pelanggan relatif terbatas, diawali uang muka dan pelunasan mundur beberapa bulan sejak proyek selesai diserahterimakan,

2.    Business to Customer (B2C) 

B2C adalah istilah lain dari bisnis ritel.  Bisnis ritel adalah semua jenis bisnis yang pasar sasarannya adalah konsumen perorangan, bukan perusahaan atau korporasi.

Pertanyaannya adalah apakah bisnis IT (Information Technology) yang Anda geluti hari ini adalah B2B atau B2C?

Jika melihat dari sana, berarti Anda masuk kategori B2B, dan ini termasuk yang tidak saya sarankan bagi yang memulai start up, kecuali diversifikasi produk Anda juga menyasar pada bisnis ritel.

Sekarang Anda bayangkan, jika penghasilan Anda hari ini dari gaji Rp 10 juta tiba-tiba Anda memutuskan berhenti dari perusahaan dengan asumsi tidak ada persiapan. Begitu Anda berhenti, Anda dapat pesanan dari sebuah perusahaan dengan nominal yang cukup besar, katakanlah Rp 100 juta, dan proyek tersebut berdurasi 6 bulan.

Dengan uang muka 10 persen, Anda mengantongi uang sebesar Rp 10 juta. Jika gaya hidup Anda tidak berubah tetap dengan pengeluaran, katakanlah Rp 10 juta, bagaimana Anda bisa hidup untuk bulan kedua, ketiga, dan seterusnya setelah berhenti?

Hal ini kadang jarang dipikirkan oleh mereka yang emosional untuk berhenti, tanpa melihat efek lanjutannya.  Belum lagi kesiapan istri dan anak yang berubah pola hidupnya dikarenakan ketidakrutinan pendapatan.

Sehingga solusi yang bisa kami sarankan dari sisi Motivasi Keuangan adalah :

1.    Punyailah Dana Darurat dan Modal Kerja

Dana darurat adalah kewajiban bagi orang yang sudah memiliki pendapatan, entah dari bisnis atau dari gaji.  Dengan dana darurat ini, Anda bisa bernapas sejenak tanpa harus diganggu urusan konsumsi bulanan.

Paling tidak jika Anda sudah memiliki motivasi yang kuat untuk berhenti, saya sarankan minimal sudah memiliki 24x gaji atau pengeluaran bulanan Anda.  Jika gaji bulanan Anda Rp 10 juta, maka Anda harus memiliki dana darurat sebesar 240 juta

Atau Anda menurunkan gaya hidup Anda, katakanlah setengahnya, jadi hanya Rp 5 juta, berarti Rp 120 juta.  Artinya, untuk 2 tahun ke depan, Anda tidak dipusingkan dengan penggeluaran bulanan dan Anda bisa fokus dengan Tawakal Sempurna dan Usaha Maksimal untuk mengembangkan bisnis IT Anda.

Lalu yang tidak kalah pentingnya adalah Anda juga harus memiliki modal kerja, yakni modal yang akan menjadi langkah awal Anda menjadi seorang pengusaha.

Minimal transportasi dan makan Anda buat lobi dan negosiasi dengan calon klien harus Anda anggarkan, sesuai dengan target sales Anda bulan tersebut.

2.    Buatlah bisnis ritel dari produk IT

Karena Anda membutuhkan pemasukan rutin yang bisa menggantikan uang gaji bulanan Anda, maka model bisnis yang paling masuk akal adalah dengan bisnis ritel.  Karena bisnis ritel tidak pernah melakukan penundaan pembayaran, seluruh pembayaran dilakukan secara CASH/TUNAI pada SAAT TRANSAKSI. Apa yang Anda jual hari itu, dapat Anda terima pembayarannya pada hari itu juga.

Jadi jika di akhir bulan Anda harus membayar gaji, listrik, dan belanja pribadi keluarga, dana tunai telah tersedia.

3.    Besarkan dengan bisnis korporasi dari produk IT

Sembari menekuni bisnis ritel, bisnis korporasi adalah bisnis jangka menengah dan jangka panjang.  Artinya ada endurance alias daya tahan terhadap ‘napas dan modal’ Anda untuk membesarkannya.  Dan perusahaan-perusahaan besar bisa bertahan hingga saat ini, mereka punya proyek dan pemasukan strategis.

Untuk lebih jelasnya silahkan Anda beli dan baca Buku WealthFlow 19 (Rahasia tentang Uang, Kekayaan dan Kesejahteraan) yang diterbitkan oleh PT Gramedia dan bisa dicari di toko buku atau menghubungi SMS 0815 1999 4196

4.    Selalu menabung dan investasi

Jika dengan bisnis Anda bisa menciptakan FREE CASH FLOW, disaat yang bersamaan dengan Investasi, Anda bisa menghasilkan akumulasi kekayaan menjadi berlipat ganda.

Karena menabung dan Investasi seperti dua mata uang saling melengkapi, karena jangka pendek, menengah dan panjang seperti melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Jadi cita-cita Anda untuk KAYA TANPA GAJIAN, Insya Allah tercapai…. Aamiin

Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : [email protected]  SMS 0815 1999 4916.

twitter.com/h4r1soulputra

www.p3kcheckup.com

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement